Jumat, 18 November 2011

opini

Urgensi Kesetaraan Pemaknaan Kota-Desa PDF Print
Saturday, 19 November 2011
Jika dilihat almanak dunia, ada tiga hari yang saling berdekatan dan memiliki keterkaitan erat dengan rakyat banyak,yakni Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang jatuh pada 15 Oktober lalu Hari Pangan Internasional pada 16 Oktober dan Hari Antikemiskinan Internasional pada 17 Oktober.


Sayangnya, hari-hari tersebut berlalu di bulan lalu tanpa banyak perubahan atas rakyat yang merupakan shareholder negeri ini, sekalipun tetap ada perayaan atasnya. Jika melihat masalah tersebut, pembahasan kita tak akan lepas dari masalah di perdesaan. Desa yang kian terlupakan akhirnya secara tidak langsung menimbulkan masalah bagi kota, yaitu meroketnya urbanisasi karena desa kian tidak menarik untuk ditinggali.

Desa yang sesungguhnya terbangun menjadi lumbung pangan malah biasanya identik dengan kemiskinan. Lapangan pekerjaan kian tergerus di desa, sementara lahan terus beralih tangan ke orang kota. Selain karena masalah itu, satu hal penting yang terlupakan dan memberikan pengaruh besar atas mandeknya perkembangan desa adalah stereotip kurang berimbang terhadap desa.

Kota selalu diasosiasikan dengan hal positif seperti modern, optimistis, maju, cepat, melek teknologi, necis,gaul,ramai,dan lain-lain. Sementara desa diasosiasikan hal negatif seperti keterbatasan, kelemahan,pesimistis,lambat, gaptek, udik, dan sebagainya.

Pemaknaan Fungsional

Pemaknaan wilayah kota– desa sangatlah beragam dan bergantung pada sudut pandang keilmuan. Hasil kompilasi Nia K Pontoh dan Iwan Kustiawan (2009) sehubungan pemaknaan definisi kota–desa menyebutkan bahwa para engineer berkecenderungan memandang pemisahan kota– desa berdasarkan jumlah kondisi fisik wilayah terbangun (built up area) yang lebih padat–kurang padat.

Pakar demografi memisahkannya berbasiskan konsentrasi (jumlah dan tingkat kepadatan) penduduk yang lebih tinggi-rendah. Pakar sosial memandang kota-desa sebagai suatu wilayah yang dihuni oleh kelompok–kelompok sosial masyarakat yang heterogen (tradisional–modern, formalinformal, maju–terbelakang) maupun yang homogen.

Pakar ekonomi memandang kotadesa sebagai suatu wilayah yang memiliki kegiatan usaha sangat beragam dengan dominasi di sektor nonpertanianpertanian. Kesemuanya membahas kota-desa secara fungsional, bukan stereotip. Pemaknaan kota–desa secara fungsional cenderung lebih berimbang dan tidak menginginkan ada pengastaan ataupun penegatifan makna seperti yang sering digunakan di tengah masyarakat.

Salah satu regulasi pendukung perspektif fungsional berimbang, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 mengenai Penyelenggaraan Penataan Ruang. Di sana secara tegas disebutkan bahwa kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama,bukan pertanian (seperti perdagangan, perindustrian, pelayanan jasa, perkantoran, pengangkutan, dan sebagainya), sedangkan kawasan pedesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam.

Lalu apa yang menyebabkan sehingga desa seringkali menjadi “status quo”? Bisa jadi karena ada kenyataan disparitas atau ketidakberimbangan dalam pembangunan, yang terutama disebabkan oleh faktor kebijakan pemerintah, selain ragam faktor lainnya berupa geografi, sejarah, politik, administrasi, sosial budaya, dan ekonomi.

Kebijakan pembangunan cenderung lebih menekankan pertumbuhan dengan membangun pusat– pusat pertumbuhan (termasuk perkotaan), yang pada kenyataannya telah menimbulkan kesenjangan antarwilayah secara luar biasa di Indonesia. Investasi dan sumber daya pun cenderung hanya terserap dan terkonsentrasi di perkotaan dan di pusat–pusat pertumbuhan. Trickle down effect yang diharapkan, tidak terjadi.

Namun, dalam kenyataannya malah digantikan oleh backwash effect, yaitu pengurasan sumber daya secara berlebihan oleh kota terhadap wilayah hinterland-nya. Desa hingga kini tetap berkecenderungan memiliki penduduk miskin yang tinggi (64,23% penduduk miskin Indonesia tinggal di desa), ketersediaan pelayanan jasa yang terbatas, ketersediaan infrastruktur sosial ekonomi yang kurang memadai, ketersediaan lapangan kerja sangat terbatas, income yang rendah, tingkat kesehatan yang rendah, sanitasi perumahan yang buruk,ketersediaan air minum yang berkekurangan, dan sebagainya.

Kondisi desa seperti ini selanjutnya menjadi push factor bagi penduduk desa untuk melakukan rural-urban migration. Besar kemungkinan, kenyataan kondisi inilah yang menyebabkan sebagian orang Indonesia berpandangan negatif terhadap hal yang berhubungan dengan perdesaan,terutama oleh orang yang bermukim di perkotaan.

Sesungguhnya sebagian orang pun telah memandang negatif terhadap kota dalam konteks kekinian. Kota telah dicap memiliki ragam permasalahan yang sangat kompleks seperti kepadatan, pencemaran, kelangkaan lahan dan sumber daya alam, permukiman kumuh, sanitasi buruk, menurunnya kesehatan, kriminalitas, dan sebagainya.

Tidak jarang kota dipandang sebagai racun dan atau parasit atas desa, karena secara langsung ataupun tidak langsung, telah ‘mengendalikan’ perdesaan dalam kacamata kepentingan perkotaan (eksploitasi) sehingga mengakibatkan aliran bersih modal (net capital flow),brain drain,dan berbagai transfer sumber daya yang justru menurunkan potensi desa untuk berkembang.

Reparadigma Makna

Karena itu, pemaknaan kota-desa sudah sewajarnya tidak dianalogikan lagi dari sisi negatif–positifnya, tapi juga lebih kepada sudut analogi keterkaitan yang lebih arif, tidak memihak, dan tidak saling mengerdilkan. Semisal secara administratif, sudah sepantasnya hubungan kota– desa dianalogikan layaknya hubungan antara orang tua dan anak.

Kota hendaknya terus mengayomi dan melindungi desa-desa sekitarnya agar dapat terus tumbuh dan berkembang hingga ‘cukup umur’ untuk menjadi desa mandiri. Sementara desa akan berupaya untuk ‘patuh’ dan ‘menyerap’ ragam regulasi,proses, aktivitas, pembelajaran, anggaran, dan hal positif lainnya sebagai bekal untuk kemandiriannya kelak.

Sedangkan secara fungsional, sudah sepantasnya kota– desa dipandang laksana hubungan laki–laki dan perempuan yang setara. Di mana masing-masing telah memiliki kodrat fungsi dan peran ideal dalam kehidupan sehari–hari. Desa setidaknya memiliki, mengelola, dan menyediakan raw material atas takdir keluasan sumber daya alamnya.

Sedangkan kota selanjutnya menyiapkan ragam jasa termasuk pengemasan dan processing, kemudian mendistribusikan hasilnya ke ragam wilayah. Dengan demikian, hubungan yang terjadi adalah hubungan yang harmonis dan saling menguatkan. Adapun menyikapi kenyataan disparitas yang ada, hendaknya dipahami bahwa keduanya sedang berada dalam status tahapan/roda development yang berbeda dan akan terus berputar.

Keduanya akan terus memiliki ragam permasalahan sesuai ‘kodratnya’ dan eranya untuk diselesaikan, tetapi juga memiliki success stories. Musuh perkotaan bukanlah perdesaan dan demikian pula sebaiknya. Justru keterikatan erat atas ragam elemen pembangunan desa–kota, seperti keterkaitan fisik, ekonomi, pergerakan penduduk, teknologi, interaksi sosial,delivery pelayanan, politik, administrasi dan organisasi,akan mampu meningkatkan sinergisitas kota–desa.

Dengan begitu,kondisi disparitas semakin berkurang dan keduanya mampu menghadapi derasnya arus globalisasi. Keduanya pun berhak dan pantas memiliki harapan untuk lebih maju,berkembang, dan sejahtera.● Z ABIDIN MOCHTARPemerhati Pembangunan Wilayah, Alumnus Program Magister Urban Planning, Dortmund University, Jerman 

wkwkwkwkkw..

http://img690.imageshack.us/img690/5144/13163941729287384.jpg

Rabu, 16 November 2011

7 info menarik dan unik (khusus untuk yang anti-pintar)

1. Asal-usul boneka Teddy Bear

Suatu hari, Presiden Theodore Roosevelt pergi berburu. Seekor beruang tertangkap dan diikat agar presiden dapat menembaknya, namun Presiden Roosevelt tidak mau membunuh beruang itu. Kisah ini menjadi terkenal ketika dilaporkan di surat kabar dan digambar dalam bentuk kartun. 
Seorang laki-laki bemama Morris Michtom memiliki toko permen dan alat-alat tulis, istrinya yang bemama Rose kadang-kadang membuat boneka beruang kecil yang diletakkan di jendela toko mereka. Morris melihat kartun beruang di koran dan mendapatkan ide. Dia minta istrinya membuat beberapa beruang khusus seperti yang ada dalam gambar kartun itu.
Lalu Morris menulis surat yang ditujukan ke Gedung Putih, menanyakan apakah beruang baru itu boleh diberi nama seperti nama Presiden. Presiden membalas surat itu, “Saya pikir nama saya tidak begitu berharga dalam bisnis beruang, tapi anda boleh saja menggunakannya.”
Maka Morris meletakkan beruang-beruang baru itu di jendela tokonya, di sebelah gambar kartun. Boneka beruang itu dinamai dengan nama panggilan Presiden Roosevelt, Teddy. Dan sampai sekarang boneka beruang tersebut terkenal dengan nama “Teddy Bear”.

2. Pilih Hitler, Franklin atau Churcill
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. 
Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut: 
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap hari. 
Calon B: dipecat dua kali dan kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum whiski tiap sore. 
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh diluar perkimpoiannya. 
Siapa diantara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.

3. Ada apa dengan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy?
Abraham Lincoln terpilih oleh Congress tahun 1846
John F. Kennedy terpilih oleh Congress tahun 1946
Abraham Lincoln terpilih menjadi President tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih menjadi President tahun 1960.
Keduanya ditembak pada hari Jumat dan keduanya ditembak di kepala
Lalu :
Sekretarisnya Lincoln bernama Kennedy.
Sekretarisnya Kennedy bernama Lincoln.
Keduanya dubunuh oleh Orang Selatan
Keduanya digantikan oleh Orang Selatan bernama Johnson
Andrew Johnson, yang menggantikan Lincoln, lahir tahun 1808.
Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir tahun 1908.
John Wilkes Booth, yang membunuh Lincoln. lahir tahun 1839
Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir tahun 1939
Kemudian : 
Lincoln ditembak di theater bemama ‘Ford’
Kennedy ditembak dalam mobil bermerk ‘Lincoln’ buatan ‘Ford’
Seminggu sebelum Lincoln ditembak, ia berada di Monroe, Maryland.
Seminggu sebelum Kennedy ditembak, ia bersama Marilyn Monroe.

4. Sepatu Cinderella
Bila mengeja dengan benar suatu kata tidak dianggap sesuatu yang penting, maka renungkanlah kisah Cinderella. Oleh karena seorang pengeja membuat satu kesalahan kecil, Cinderella akhirnya memakai sepatu yang salah untuk selama-lamanya.
Pada tahun 1697, seorang Perancis bemama Charles Perrault menyalin kisah Cinderella ke dalam bahasanya sendiri, Perancis. Dalam kisah Cinderella sebelumnya, sepatu Cinderella terbuat dari bulu tupai berwarna putih dan abu-abu. Bahasa Perancis untuk kata bulu adalah ‘vair’.
Charles salah menyalin, bahwa sepatu Cinderella terbuat dari ‘verre’, yang bunyinya sama dengan ‘vair’, namun berbeda artinya yaitu ‘kaca’.
Sejak itulah anak-anak sedunia membayangkan ada sebuah sepatu kaca yang berkilauan yang tertinggal di atas tangga istana, dan mereka terheran-heran mengapa mereka tidak pernah melihat sepatu seperti itu dalam kenyataannya. 

5. SOS & Mayday
Tanda bahaya dalam keadaan darurat adalah SOS. Banyak yang mengatakan SOS adalah singkatan “Save Our Soul” Tetapi ini sebenarnya keliru SOS bukanlah singkatan.
Huruf SOS dipilih karena tanda ini dapat dengan mudah diingat bila dituliskan dalam kode Morse (alfabet yang digunakan pada telegraf). Dengan kode morse, tanda SOS terbentuk dari tiga titik tiga garis dan tiga titik.
Tanda SOS pertama kali digunakan oleh kapal legendaris ‘Titanic” saat menjelang ajalnya. Namun sayangnya tanda SOS saat itu belum dikenal luas. Tidak heran pada saat musibah Titanic, kapal-kapal di sekitarnya terlambat merespon dan memberi bantuan.
Sebagai alternatif lain dari SOS adalah “Mayday”, yang biasanya diucapkan lewat hubungan komunikasi radio. Kata “Mayday” berasal dan kata “m’aidez” - bahasa Perancis yang berarti ‘Tolong Saya”.

6. Napoleon Bonaparte
Napoleon Bonaparte, saat berperang di Timur Tengah tahun 1799 bermaksud akan melepaskan 1200 tentara Turki yang berhasil ditawan Perancis ketika Perancis berhasil merebut Jaffa.
Saat itu Napoleon sedang terserang influenza. Saat menginspeksi pasukan, Napoleon terserang batuk berat, ia mengatakan“Ma sacre toux” (“Batuk sialan”). Perwira pendamping Napoleon merasa sang jenderal mengatakan “Massacrez Tous” (“Bunuh Semua”).
Akibatnya, seluruh 1200 orang tawanan Turki itu dibunuh. Hanya karena batuk sang jenderal.

7. Al Capone
Al Capone semasa hidup sering menyombongkan diri bahwa codet besar di bawah pipinya adalah akibat cedera yang dialaminya semasa berjuang dalam sebuah battalion yang mengalami kekalahan di Perancis pada Perang Dunia I.
Namun kejadian yang sebenarnya bukanlah demikian. Sebenarnya codet pada wajahnya itu terjadi saat ia masih menjadi preman kecil di sebuah rumah bordir di Brooklyn, New York. Codet itu akibat perkelahiannya dengan sesama preman bernama Frank Gallucio dalam memperebutkan seorang wanita.
Al Capone sendiri tidak suka dengan panggilan ‘Scarface Al’ (Al si muka codet). Ia pernah mengancam redaktur koran Chicago American karena menyebutnya dengan nama tersebut.


Foto - Foto Istana Pasir Yang Luar Biasa


Foto kreasi luar biasa - Pantai memang menjadi tempat wisata yang mengasyikan kita bisa menikmati pemandangan ombak,desiran angin,berenang,berselancar,berjemur,bermain air Laut dan tidak ketinggalan yang paling menarik adalah bermain pasir. Pernahkah anda berpikiran membuat Istana pasir yang sangat besar,indah dan bisa dinikmati dan tidak jarang juga ada istana pasir yang di perlombakan. Nah dibawah ini saya kasih Foto-foto istana pasir yang sangat luar biasa, mungkin anda bisa membuat seperti ini atau lebih bagus lagi misalkan seperti bentuk candi Borobudur. Selamat menikmati !


Foto istana pasir 1

 
Foto istana pasir 2

 
Foto istana pasir3

 
Foto istana pasir 4

 
Foto istana pasir 5

Foto istana pasir 6

 
Foto istana pasir 7

 
Foto istana pasir 8

Foto istana pasir 9

Foto istana pasir 10
Foto istana pasir 11

 
Foto istana pasir 12

 
Foto istana pasir 13

Foto istana pasir 14
Foto istana pasir 15

 
Foto istana pasir 16

 
Foto istana pasir 17

 
Foto istana pasir 18

 
Foto istana pasir 19

Pemasaran Sosial

Pemasaran social lahir sebagai disiplin ilmu pada tahun 1970, ketika Philip Kohler dan Gerald Zaltman manyadari bahwa prinsip-prinsip pemasaran yang sama yang digunakan untuk menjual produk ke konsumen daoat digunakan untuk menjual ide-ide, sikap dan perilaku. Kohler dan Andreason mendefinisikan pemasaran social yang hanya berkenaan dengan tujuan dari pemasaran dan organisasinya. Pemasaran social berusaha berusaha untuk  mempengaruhi perilaku social tidak menguntungkan penjual, tetapi untuk manfaat khalayak target dan masyarakat umum teknik ini telah digunakan secara exstensif dalam program kesehatan Internasional, terutama untuk kontrosepsi dan terapi rehidrasi oral (ORT) dan sedang dilakukan dengan frekuensi yang lebih di Amerika Serikat untuk beragam topic seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang, penyakit jantung dan donasi organ.
                  Dalam pemasaran komersil focus utama adalah pada konsumen mengenai apa yang oaring inginkan dan butuhkan daripada mencoba membujuk mereka untuk membeli apa yang kita produksi. Berbicara kepada konsumen bukan tentang produk. Adapun unsur-unsur marketing misalnya adalah:
  1. Produk
                  Pemasaran “produk” social tidak selalu berbentuk fisik. Sebuah kontinum eksis produk, mulai dari yang nyata, produk fisik (ex: kondom) Pemeriksaan medis, praktek (menyusui, ORT,/ perlindungan  lingkungan). Dalam rangka untuk memilki produk yang layak orang performa harus merasa bahwa mereka memilki permasalahan nyata. Peran peneliti untuk menemukan persepsi konsumen dari masalah dan produk dan untuk menentukan seberapa penting mereka merasa itu adalah untuk mengambil tindakan terhadap masalah.
  1. Harga
                  Mengacu pada apa yang konsumen harus lakukan untuk mendapatkan produk pemasaran sosial.
  1. Tempat
                  Menggambarkan cara produk mencapai konsumen.
  1. Promosi
                  Promosi terdiri dari mengintegrasikan penggunaan iklan, hubungan publik, promosi, advokasi media, penjualan pribadi dan kendaraan hiburan.
  1. Tambahan pemasaran social ”P.S”
a.       Publice
                  Pemasaran sosial memiliki kiat bagaiman mencapai keberhasilan dengan cara kerjasama dengan pihak lain.
b.      Kemitraan
                  Bagaimana membangun dan mengelola hubungan dalam proses pemasaran.
c.       Kebijakan
                  Program pemasaran sosial dapat melakukan dengan baik dalam memotifasi perubahan prilaku individu, agar masyarakat patuh terhadap peraturan yang dibuat.
d.      Purse Strings
                  Kebanyakan organisasi yang mengembangkan progam pemasaran sosial berpotensi melalui dana yang disediakan oleh sumber seperti yayasan, hibah pemerintah atau sumbangan.

Selasa, 15 November 2011

Dinamika Perubahan Masyarakat Transisi Dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Teori

Menurut teori Fred W. Riggs di dalam bukunya  Administration in Developing Countries, The theory of Prismatic Society, masyarakat model prasmatik. Pembicaraan ini mencoba membuka tesis Riggs tentang masyarakat prismatik yang terjadi pada masyarakat Indonesia, yaitu bahwa pada Negara-negara yang sedang berkembang (dunia ketiga) terjadi peubahan sosial ke arah masyarakat model prismatic.Riggs menganalisis terhadap system administrasi yang berlaku di Negara-negara di dunia ketiga dapat disimpulkan banyak anomi dan norma.
Masalah Pendekatan Teori Perubahan Sosial dalam Persfektif Sosiologi
Menurut Landis mengisyaratkan bahwa masyarakat secara normal dihasilkan dalam hubungan simbiosis sebagai bagian kerja sama yang salling ketergantungan dalalm keseimbangan dalam keadaan normal dapat  pula tejadi perubahan atau diorganisasi sosial yang menyebabkan bermacam-macam contohnya:
1.      Konflik norma
2.      Tingkat perubahan budaya waktunya tidak semua sama, tetapi terjadi “cultural lag”
3.      Peraturan (system) yang tidak baik atau konflik antara manusia dengan lingkungannya (fisik,sosial, ekonomi dll)

Teori tertib sosial yang diterapkan dan bahkan menentukan arah perubahan sosialnya terdiri dari:
Ø  Teori paksa ( coercion theory)
Berasumsi bahwa kekuasaan adalah sarana ampuh untuk mencapai tertib sosial dan menolak tentang realitas keanekaragaman sosial budaya
Ø  Teori Kepentingan (belangen theory)
Bersumsi bahwa masyarakat dapat tertib karena ada kesepakatan sosial dan saling percaya. Efektif bagi masyarakat yang homogen.
Ø  Teori kesepakatan (concensus theory)
Berasumsi bahwa tertib sosial dapat tercapai karena manusia terikat dengan norma dan nilai, kelemahannya consensus akan dipaksakan pada masyarakat yang bersifata pluralistic, seperti banyaknya unsur –unsur primodial.
Ø  Teori lambat ( traagheids theory)
Menekankan perlunya suatu kondisi yang dapat mempertahankan status quo. Dan berasumsi bahwa tertib sosial dapat tercapai dengan memperlambat perjuangan unsur pokok kehidupan melalui isu-isu kecintaan, kesetiaan dan disiplin.
Perubahan dari masyarakat Tradisi ke masyarakat Transisi ke Masyarakat Transisi
Danil Lerner menyimpulkan bahwa masyarakat tradisional sudah memudar dalam kehidupan sosial budayannya. Disebabkan adanya ekspansi Barat sejak 1500, akan tetapi berbentuk kolonialisme dan imperialism.Sehingga untuk pertama kali menghubungkan masyarakat seluruhnya  menjadi satu ikatan pergaulan. Tesis utama memudarnya masyarakat tradisional adalah penyangkalan terhadap “karakter manusia” dan “determinasi sosial” persfektif pokok memudarnya masyarakat adalah perilaku dalam konteks perubahan sosial. Memudarnya masyarakt tradisional akan tampak jelas apabila dilihat dari tiga dimensi perubahan sosial yaitu: dimensi structural, kulturaldan interaksionial.
Perubahan dari masayarakt transisi ke masyarakat tradisi adalah terjadinya konflik nilai. Keadaan konflik nilai ini akan menghasilkan sesuatu yang polinartif dalam berbagai hal. Dalam hal mobilitas pada masyarakat trdisional cenderung manjadi mobilitas sistematis. Artinya, mobilitas sosial, fisik dan jiwa berjalan bersama. Pada masyarakat transisi, terjasi pengujian lembaga atau institusi ke dalam keutuhan mendesak atau aspirasi baru sebagai hasil pemikiran atau gagasan baru. Proses modernisasi yang digerakkan pemerintah menimbulkan berbagai bentuk gabungan antara tradisi dengan modern, sebagai contoh perpaduan antara tradisi dengan modern. Dalam masyarakat prismatic, gerakan perubahan cenderung munsul akibat system “eksoprismatik” Nampak lebih memungkinkan. Mengingat isu stabilitas lebih diutamakan bahkan menjadi panglima dalam pengaturan masyarakat. Keadaan ini jelas mempunyai implikasi terhadap pengembangan teori perubahan. Sebab bagaimanapun kuatnya pengaruh “eksoprismatik”, unsur “endoprismatik” merupakan sesuatu yang harus diperhitungkan. Fenomena ini terlihat pada semakin berkembang dan kuatnya lembaga swadaya masyarakat dan semakin kuatnya keinginan mandiri dari kelompok-kelompok pembangunan di pedesaan.
Filosofi Teori dan Realitas Sosial
Fakta lain yang menentukan kelahiran suatu teori adalah gambaran sebenarnya suatu masyarakat (sui generis). Sebagaimana dikatakan Soemardjan, bahwa teori sosiologi yang berkembang sekarang berakar  pada bahan-bahan masyarakat kita sebagaimana adanya. Untuk membangun suatu teori tidaklah berspekulasi, tetapi perlu buat konstruksi yang jelas berupa jalinan fakta dan realita. Membangun konsruksi teori formal, yaitu teori sosiologi sebagai seperangkat proposisi sistematis yang saling berhubungan secara logis yang didasarkan pada data empiris.
      Asumsi yang diangkat masyarakat sekarang adalah masyarakat dimana terjadi percampuran antara tradisi dengan nilai modern. Masyarakat sekarang sedang menghadapi masa transisi. Suatu masyarakat yang sedang menuju masyarakat modern, periode post-agraris menuju pra-industri. Keadaan masyarakat demikian dapat dikatakan sebagai masyarakat prismatic (prismatic society) menurut Riggs. Landasan filsafat teorinya positivisme, organisme, dan fenomenologis. Dengan meminjam pengetahuan tentang optic (cahaya yang menembus prisma), diangga Riggs sebagai metafora nilai masyarakat Negara dunia ketiga. Menurt Riggs, masyarakat prismatic bersifat heterogen dan berkesenjangan sosial tinggi. Tesis Riggs menyatakan bahwa realita sosial masyarakat terdiri dari masyarakat tradisi , transisi, dan modern. Bilamana suatu struktur melaksanakan sejumlah fungsi, maka struktur tersebut “tersebar secara fungsional” dan disebut model memencar (diffracted); yang demikian merupakan gambaran masyarakat moden.Bilamana suatu struktur melaksanakan fungsinya terbatas, makan struktur tersebut “khusus secara fungsional” dan disebut model memusat (fused); yang demikian merupakan gambaran masyarakat tradisi . Sedangkan masyarakat prismatic (transisi) adalah antara kedua masyarakat sebelumnya tradisi dan modern.


Konservatif Toeri (ahistoris)
Teori tindakan sosial orientasi subjektif individu karya Parsons merupakan teori yang banyak menarik perhatian para sosiolog. Menurut Parsons, teori variable-variabel pola merupakan lima pilihan. Ketiga orang pertama bertitik tolak dari posivistik sedangkan Weber dari konteks idealismen Jerman; Toeri Parsons merupakan sintesis antara idealisme dan posivistik.
Kategori-kategori ini menggambarkan cirri-ciri pokok relasi-relasi dalam proses orientasi, yang meliputi:
1)      Maksud efektivitas lawan netralistik afektif
2)      Maksud orientasi lawan orientasi kolektif
3)      Maksud alternative universalisme lawan partikularisme
4)      Maksud pilihan pencapaian (pestasi) lawan askripsi
5)      Maksud spesifitas lawan kepencaran.
Alternatif Teori
Wujud teori akan muncul apabila banyak dilakukan pengujian teori yang bersifat yang bersifat dikotomis pada masyarakat transisi, yaitu teori yang mengarah kepada permasalahan yang bercirikan adanya variable antara dari berbagai substansi teori yang bersifat tipologis dan dikotomis
Arah perubahan masyarakat yang dianalisis melalui teori variable pola Parsons mempunyai akibat dalam sikap-sikap sosialnya. Keadaan yang memunculkan variable perantara pada masyarakat transisi ini tidak lepas dari kebijaksanaan ketertiban sosial yang diterapkan sehingga timbul variable perantara. Teori tertib sosial menurut teori paksa berasumsi bahwa tertib sosial akan terselenggara melalui paksaan, baik tekanan secara mental maupun fisik.
Pendekatan ekuilibrium menyatakan bahwa terjadinya perubahan sosial dalam suatu masyarakat adalah karena terganggunya keseimbangan di antara unsur-unsur dalam sistem sosial di kalangan masyarakat yang bersangkutan, baik karena adanya dorongan dari faktor lingkungan (ekstern) sehingga memerlukan penyesuaian (adaptasi) dalam sistem sosial, seperti yang dijelaskan oleh Talcott Parsons, maupun karena terjadinya ketidakseimbangan internal seperti yang dijelaskan dengan Teori kesenjangan Budaya (cultural lag) oleh William Ogburn. Pendekatan modernisasi yang dipelopori oleh Wilbert More, Marion Levy, dan Neil Smelser, pada dasarnya merupakan pengembangan dari pikiran-pikiran Talcott Parsons, dengan menitikberatkan pandangannya pada kemajuan teknologi yang mendorong modernisasi dan industrialisasi dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
 Hal ini mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang besar dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk perubahan dalam organisasi atau kelembagaan masyarakat.Adapun pendekatan konflik yang dipelopori oleh R. Dahrendorf dan kawan-kawan, pada dasarnya berpendapat bahwa sumber perubahan sosial adalah adanya konflik yang intensif di antara berbagai kelompok masyarakat dengan kepentingan berbeda-beda (Interest groups). Mereka masing-masing memperjuangkan kepentingan dalam suatu wadah masyarakat yang sama sehingga terjadilah konflik, terutama antara kelompok yang berkepentingan untuk mempertahankan kondisi yang sedang berjalan (statusquo), dengan kelompok yang berkepentingan untuk mengadakan perubahan kondisi masyarakat.
                                                                                                                              




                                              

Senin, 14 November 2011

kkn

Ini pas ane ma tmn2 pada cari belanjaan  di tradisional of market lebih kerennya kalangan hehe..sehari setelah ane nyampe di desa..gmn? terlihat cukup tampan kan ane?