Sabtu, 05 Mei 2012

Potret Keindahan Bumi Pada Malam Hari
25 Maret 2012 by Nuhisa Filiandi · 3 komentar

Aurora di Amerika Utara

California

Chicago




Filipina





Houston



Iran



Italia



Los Angeles





Milan, Italia



Sumber : http://unik247.blogspot.com/

Jumat, 04 Mei 2012

http://www.bisnis-kepri.com/index.php/2011/06/kontraktor-pltu-simpang-belimbing-bersengketa/


Kontraktor PLTU Simpang Belimbing bersengketa

Oleh Suyono Saputro on Jun 6th, 2011


BATAM (BisnisKepri.com): Kerjasama proyek PLTU Mulut Tambang Simpang Belimbing 2×150 MW di Kab. Muara Enim, Sumatera Selatan terancam bubar menyusul sengketa bisnis yang terjadi antara investor asal China yaitu China Shenhua Energy Co. Ltd. dan mitra lokalnya PT Energi Musi Makmur (EMM).

Proyek pembangkit listrik berbahan bakar batubara tersebut dibangun oleh PT Guohwa Energi Musi Makmur yang merupakan konsursium China Shenhua Energy Co. Ltd. – Gou Hwa dari China dan PT EMM.

Dalam materi somasi balik yang dibuat oleh Kantor Hukum Juniver Girsang dan Rekan, menyebutkan beberapa penyimpangan oleh China Shenhua selaku pemegang saham mayoritas dalam PT GH-EMM terhadap PT EMM sebagaimana yang telah disepakati dalam gentlement agreement dan basic agreement.

“Atas dasar penyimpangan itu, kami memperingatkan klien rekan [China Shenhua] untuk menunda atau menangguhkan seluruh kegiatan usaha di Indonesia dan seluruh kegiatan testing commisioning, kontrak PPA, ekspansi PLTU, dan tender PLTU Pemalang sampai adanya penyelesaian terhadap kewajiban klien rekan kepada PT EMM,” ujar Juniver Girsang.

Beberapa keberatan adalah adanya somasi dari China Shenhua yang mewajibkan PT EMM untuk membiayai pembangunan transmisi dari PLTU Simpang Belimbing ke substation Banjarsari dan Substation Lahat, padahal proyek transmisi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proyek PLTU tersebut.

China Shnehua juga telah mengingkari perjanjian kerjasama yaitu pada awalnya terhadap pembangunan konstruksi seharusnya diberikan kepada PT EMM dan seharusnya seluruh biaya pembebasan lahan dan tambang PLTU dimasukkan sebagai biaya proyek, dan sebagai mitra lokal PT EMM tidak jadi diberikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan konstruksi sebagaimana yang telah diperjanjikan pada awal gentlement agreement proyek dengan China Shenhua.

Juniver juga menyayangkan upaya dilakukan oleh investor asing ini sehingga peran mitra lokal yaitu PT EMM secara sistematis mulai dikurangi dan dibebani oleh kewajiban yang tidak diatur dalam perjanjian awal.

“Kami menghimbau pemerintah untuk meninjau kembali proyek PLTU ini karena kami menduga adanya indikasi pelanggaran dan kecurangan dari pihak investor terhadap eksistensi mitra lokal,” paparnya.

PLTU Mulut Tambang Simpang Belimbing tersebut berada berlokasi di Desa Gunung Raja, Kec. Rambang Dangku, Kab. Muara Enim, Sumatra Selatan dengan menelan investasi US$213 juta.

Konsursium ini mendapatkan sindikasi pendanaan dari China Development Bank dan The Export Import Bank of China untuk pendanaan proyek ini dan telah membebaskan lahan seluas 240 hektare.

Saat ini, mesin tahap pertama kapasitas 150 MW diperkirakan beroperasi pada Juni 2011 ini, dan selanjutnya mesin tahap kedua akan beroperasi pada tahun depan.

Johanes Kennedy, Direktur Utama PT Energi Musi Makmur, menegaskan pihaknya melihat adanya ketidakseimbangan dalam kerjasama pembangunan PLTU ini yang melibatkan investor asal China tersebut.

“Kerjasama ini mulai merugikan pihak Indonesia karena hampir semua kebutuhan proyek mulai dari tenaga kerja, material, dan lainnya didatangkan dari China. Seolah ini menjadi proyek bedol desa bagi mereka [China],” tuturnya.

Pihaknya merasa diperdaya oleh investor China karena hanya diberikan tugas untuk mengurus perizinan, pembebasan lahan, dan mendapatkan hak kuasa pertambangan. Ketika proyek sudah berjalan dan siap beroperasi, secara sistematis mitra lokal pun dikurangi perannya.

http://www.ptpjb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=500%3Akemitraan-di-pltu-simpang-belimbing-retak&catid=1%3Alatest-news&Itemid=138&lang=id

Kemitraan di PLTU Simpang Belimbing retak

Kemitraan antara investor lokal dan asing yang tergabung dalam konsorsium PT Gouhwa - Energi Musi Makmur, pengembang swasta untuk proyek PLTU Mulut Tambang Simpang Belimbing berkapasitas 2x150 megawatt, mulai retak.

Bahkan, PT Energi Musi Makmur, mitra lokal PLTU itu mensinyalir investor asal China, Shenhua Energy Co. Ltd. - Gou Hwa, telah melakukan penyimpangan dalam kerja sama pembangunan pembangkit tersebut yang merugikan Indonesia.

Johanes Kennedy, Direktur Utama PT Energi Musi Makmur, menegaskan pihaknya melihat adanya ketidakseimbangan dalam kerja sama pembangunan PLTU itu yang melibatkan investor asal China tersebut.

"Kerja sama ini mulai merugikan pihak Indonesia karena hampir semua kebutuhan proyek mulai dari tenaga kerja, material, dan lainnya didatangkan dari China. Seolah ini menjadi proyek bedol desa bagi mereka (China)." ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Sebagai mitra lokal, tambahnya, pihaknya merasa diperdaya oleh investor China karena hanya diberikan tugas untuk mengurus perizinan, pembebasan lahan, dan mendapatkan hak kuasa pertambangan, ketika proyek sudah berjalan dan siap beroperasi, secara sistematis mitra lokal pun dikurangi perannya.

Proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tersebut dibangun oleh PT Guohwa Energi Musi Makmur yang merupakan konsorsium China Shenhua Energy Co. Ltd. - Gou Hwa dari China dan Energi Musi Makmur.

PLTU itu berlokasi di Desa Gunung Raja, Kec. Rambang Dangku, Kab. Muara Enim, Sumatra Selatan dengan menelan investasi US$213 juta.

Konsorsium ini mendapatkan sindikasi pendanaan dari China Development Bank dan The Export Import Bank of China dan telah membebaskan lahan seluas 240 hektare.

Saat ini, mesin tahap pertama kapasitas 150 MW diperkirakan beroperasi pada Juni 2011 ini, dan selanjutnya mesin tahap kedua akan beroperasi pada tahun depan.

Berkaitan dengan perselisihan itu, Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Murtaqi Syamsuddin tidak bersedia berkomentar. "Saya tidak bersedia berkomentar lebih jauh soal itu. Saya menilai itu menyangkut soal internal di konsorsium tersebut," ujarnya.

Sebenarnya, perselisihan bisnis di PLTU itu bermula ketika Shenhua mengirimkan somasi kepada pihak Energi Musi Makmur terhadap kewajiban pengerjaan perusahaan itu untuk membiayai pembangunan transmisi dari PLTU Simpang Belimbing ke substation Banjarsari dan substation Lahat. Padahal proyek transmisi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proyek PLTU tersebut.

Atas dasar itulah, Energi Musi Makmur melalui Kantor Hukum Juniver Girsang dan Rekan mengirimkan nota somasi balik kepada pihak China Shenhua untuk menjawab somasi tersebut sekaligus membeberkan beberapa penyimpangan oleh pihak China selaku pemegang saham mayoritas dalam PT GH-EMM sebagaimana yang telah disepakati dalam gentlement agreement dan basic agreement.

"Atas dasar penyimpangan itu, kami memperingatkan klien rekan (China Shenhua) untuk menunda atau menangguhkan seluruh kegiatan usaha di Indonesia dan seluruh kegiatan testing commisioning, kontrak PPA, ekspansi PLTU, dan tender PLTU Pemalang sampai adanya penyelesaian terhadap kewajiban klien rekan kepada PT EMM," ujar Juniver Girsang.

Beberapa keberatan itu adalah China Shnehua juga telah mengingkari perjanjian kerja sama yaitu pada awalnya terhadap pembangunan konstruksi seharusnya diberikan kepada Energi Musi Makmur dan seluruh biaya pembebasan lahan dan tambang PLTU dimasukkan sebagai biaya proyek.

Juniver juga menyayangkan investor asing yang mengurangi peran mitra lokal yaitu Energi Musi Makmur secara sistematis.



Oleh : Suyono Saputra
Sumber : Bisnis Indonesia - Batam, 7 Juni 2011

http://industri.kontan.co.id/news/guohwa-energi-bangun-pltu-us-213-juta


PEMBANGUNAN PLTU
Guohwa Energi Bangun PLTU US$ 213 Juta
Oleh Gentur Putro Jati - Kamis, 09 Juli 2009 | 07:57 WIB

0 KomentarTelah dibaca sebanyak 731 kaliKomentar
JAKARTA. PT Guohwa Energi Musi Makmur Indonesia mulai membangun PLTU Mulut Tambang Simpang Belimbing 2x150 MW. Proyek yang terletak di Desa Gunung Raja, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan ini menelan investasi US$ 213 juta di atas lahan seluas 240 hektar. Diperkirakan sebanyak 1.000 orang tenaga kerja terserap dalam proyek ini.

Menurut Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM Jacobus Purwono, pembangunan proyek tersebut sangat penting untuk memperkuat kehandalan pasokan listrik di Sumatera Selatan. Selain itu komitment Guohwa Energi dalam melaksanakan proyek juga sangat berarti bagi PT PLN (Persero). Mengingat lebih dari 100 perjanjian jual beli listrik yang telah ditandatangani PLN dengan perusahaan listrik swasta (IPP) hanya 12 % yang berlanjut ke tahap pembangunan proyek.

''Untuk itu kami berharap setelah berhasil menyelesaikan pembangunan proyek ini, Guohwa Energi akan terus melakukan ekspansi ke tahap 3, 4 dan seterusnya,'' kata Purwono, seperti dikutip situs resmi Departemen ESDM, Rabu (8/7) malam.

Selasa (7/7) lalu, Purwono didampingi Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, Komisaris Utama PLN Alhilal Hamdi, Wakil Gubernur Sumatera Selatan Eddy Yusuf, Direktur Utama Guohwa Energi Ling Wen menghadiri acara pengecoran landasan boiler proyek PLTU MT Simpang Belimbing.

Menurut Purwono, pemerintah akan terus memberikan insentif di bidang kelistrikan yang menarik guna mempercepat penambahan tenaga listrik dari proyek-proyek pembangkit baru.