Sabtu, 04 Februari 2012

Terus-terusan Curhat di Facebook Bakal Kehilangan Teman

Ingat Ya,
Sabtu, 04 Pebruari 2012 09:58 WIB


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pengguna Facebook yang terus-terusan mengirim status negatif atau bernada mengiba, akan membuat teman-teman mereka tidak nyaman dan akan dijauhi, kata suatu penelitian.

Menurut penelitian itu juga, mereka yang memposting status gembira, akan lebih banyak mendapatkan tanggapan dan perhatian dari teman.

Tim peneliti dari Universitas Waterloo Kanada dalam penelitian itu menanyai responden yaitu para mahasiswa tentang Facebook.

Menurut penelitian itu, orang yang tidak bangga dengan diri sendiri menganggap Facebook adalah cara untuk berkenalan dengan orang dan "tempat aman yang dengan situasi tak berisiko menjadi canggung."

Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Psychological Science itu mengungkapkan bahwa orang yang tidak bangga dengan diri sendiri lebih sering membuat status negatif sehingga kurang disukai.

"Orang seperti itu akan merasa aman jika menyampaikan hal-hal pribadi di Facebook, tapi sebenarnya hal itu tidak menolong mereka," kata peneliti Amanda Forest.

"Jika orang punya reaksi negatif terhadap suatu status di Facebook, mereka cenderung tidak akan mengungkapkannya. Masalahnya, si pembuat status sebagian besar tidak tahu kalau mereka tidak disukai."
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

STMIK AMIKOM

Minggu, 29 Januari 2012

Malu/Shame/ الحياء



25/12/2011 | 30 Muharram 1433 H 
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc.


Ilustrasi (almuhandis.wordpress.com)

dakwatuna.com – Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan seluruhnya. [1]

“Tujuh puluh lima cabang, yang utama ialah kalimat La ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalanan, dan malu itu satu cabang dari iman.” [2]

Rasa malu juga warisan para nabi, “Di antara yang bisa diperoleh manusia dari pesan para nabi terdahulu adalah kalau engkau tidak malu, silakan berbuat sesukamu.” [3]

Keanekaragaman Malu:

1. Malu dari Allah:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla malu jika seorang hamba membentangkan kedua tangannya kepada-Nya seraya meminta kebaikan, lalu ditolaknya dengan sia-sia.” [4]

2. Malunya Rasulullah:

“Rasulullah itu lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya.” [5]

Rasa malu yang dimiliki Rasulullah adalah rasa malu melakukan kesalahan dan maksiat.

3. Malunya seorang pemuda tampan nan elok rupawan kepada Allah:

Dan wanita (Istri Al-Aziz) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung. [6]

4. Malu ala gadis desa:

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.” [7]

5. Malu kepada orang yang sudah meninggal:

Fakta bahwa Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku.

Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar. [8]

6. Saya malu. Anda jugakah…….???

Sebagai manusia normal nan lemah tak berdaya yang juga pernah memiliki sebuah hasrat kepada seorang “AKHWAT” yang di idamkan oleh “IKHWAN” (Studi Normatif), walaupun si dia tidak tahu kalau ada seorang pemuda yang mempunyai kecenderungan padanya dan tidak pula ada yang tau siapa akhwat itu sebenarnya kecuali Allah dan saya. (When the Love is unspoken)

Ah…. saya malu untuk mengungkapkan rasa, karena saya tahu kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk launching isi hati seraya memohon ampun kepada Allah atas penyakit hati (kecenderungan yang sebenarnya tidaklah halal) yang tak di sengaja dengan belajar melupakannya dalam sejarah hidup saya walau ini bukanlah mudah hingga waktu indah itu tiba (Insya Allah), biarlah detik demi detik yang menjawab, toh kalaupun sudah dilamar orang itu tandanya dia bukanlah tulang rusuk yang sementara terpisah dan lebih tepatnya bukan jodoh, hehehe….

Seorang sahabat pernah berkata: ‘‘Cinta itu candu, sekali dia jatuh, jatuh dan terjatuh….maka sulit untuk bangkit kecuali dengan perjuangan lebih.”

Wajar saja kalau salah satu sahabat saya pernah hancur lebur hatinya hingga meneteskan air mata karena cintanya kepada seorang akhwat dambaan berakhir dengan sebuah ketidakpastian alias ditolak. Masya Allah….

Orang bijak berkata:

”Cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, melainkan ia berupa dialog antara dua insan yang bersatu dan melebur dalam ikatan suci pernikahan tanpa pemaksaan kehendak.”

”Cinta juga harus diperjuangkan karena ia adalah anugerah terindah dari Allah dengan terus memohon ridha-Nya ”

Ditambahkan:

“When people give their feelings to others, they do so without expecting anything in return. If one just considers their gains and losses, then those aren’t true feelings.”

Malu yang terpuji:

Betapa dicontohkannya oleh wanita kaum Anshar yang tidak terhalang oleh rasa malu untuk mempelajari agama Allah khususnya dalam masalah fiqih kewanitaan dan yang berhubungan dengan keluarga (mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada wanita Anshar).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.” [9]

Malu yang kurang baik:

1. Sedikit cerita… Ketika rekan saya mengeluh akan piutang dari temannya yang enggan membayar hingga waktu yang amat lama dan belum ada ucapan ‘’maaf’’ atau pemberitahuan darinya kalau ‘’saya lom punya uang, nanti yaa dibayar’.

Lalu saya tanyakan padanya, kenapa tidak kamu tagih aja bro sama dia…??? “MALU” jawabnya… Halah…. ”Seharusnya kan peminjam yang malu, bukan yang dipinjami’’ (begitu jawaban logis yang terbesit di benak saya) hehe, atau mungkin dia lupa karena sudah terlalu larut, makanya harus di ingatkan dengan baik, ”sambung saya pada seorang rekan”.

Katanya malu tapi mengeluh, justru rasa malu inilah yang harus dihindarkan, padahal niat kita baik, kita juga butuh uang dan yang terpenting adalah cara penyampaiannya yang sopan tanpa menyinggung perasaan apalagi menyakiti hati si peminjam uang. Toh manusia adalah hewan berakal yang bisa disentuh dengan bahasa hati sekeras apapun dia. Insya Allah…

2. Malu untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Sejatinya malu itu mendorong:
Sang penguasa untuk adil
Para menteri untuk tunduk runduk pada atasan.
Pimpinan KPK terpilih berkomitmen menuntaskan kasus korupsi
Para penegak hukum untuk amanah.
Para pegawai untuk lebih disiplin
Rakyat bersatu dan turut berperan aktif dalam membangun negeri
Umat Islam dari segala unsur berjalan bersama
Para pelajar bersungguh-sungguh mencari ilmu dan haus prestasi
Para pengusaha untuk lebih profesional
Orang kaya menjadi lebih peka dan gemar berbagi
Pedagang menjadi lebih jujur
Para wartawan obyektif dalam menyajikan berita
Anak berbakti kepada orangtua
Istri taat dan patuh pada suami
Manusia untuk senantiasa berbuat baik
Kaum hawa lebih feminis dan rapih dalam berbusana sesuai ajaran Islam
Para lajang untuk segera merubah statusnya.
Silakan jika mau menambahkan …



Kutulis di saat gerimis mengundang,

Pelajar yang merindukan Tanah Air.



Catatan kaki:

[1] Di riwayatkan oleh Muslim I : 64, Abu Dawud IV : 252, Al-Haitsami dalam majma’u zawaid VIII :26, dan Ahmad IV : 426.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim.

[3] Diriwayatkan oleh Bukhori.

[4] Hadist Riwayat Ahmad no. 22600.

[5] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya IV : 1809, Al-Bukhori V :2263, dan Ibnu Hibban dalam shohihnya XIV : 213.

[6] QS : Yusuf ayat 23 juz 12.

[7] QS : Al Qashash ayat 25 juz 20.

[8] Hadist Riwayat Ahmad.

[9] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, dari tarjamah bab 50 (Fath 1/228)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17026/malu/#ixzz1kuZvwqRV

Bukti Tidak Ada Tuhan Selain Allah




Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tahukah Anda bahwa sebagai orang yang mengaku beriman sekalipun, prinsip dan kelakuan yang di luar jalur Islam penyebabnya kadang sesimpel karena ia tak benar-benar tahu bahwa Tuhan itu ada? Ia tak bisa menunjukkan bahwa Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah?

Coba, tunjukkan kepada saya bahwa Tuhan itu ada. Di mana?

Baiklah, kalau Anda sudah yakin bahwa argumentasi Anda tak tergoyahkan, Anda boleh tak membaca tulisan ini.

Bagi yang belum yakin, tuntaskan tulisan ini. Akan saya tunjukkan kepada Anda bagaimana saya menemukan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Ide Transendental

Ide tentang zat yang berada di luar jangkauan manusia, transenden, muncul secara wajar dari ketidakmengertian manusia mengenai banyak hal, sementara hal-hal tersebut begitu unik, ajaib, atau bahkan mengagumkan.

Manusia tak mengerti kenapa pohon kelapa bisa terbakar setelah ada petir, maka ia menanamkan ide di kepala bahwa pasti ada “dewa petir”. Para prajurit perang tak mengerti bagaimana pasukan yang sedikit bisa mengalahkan pasukan lawan yang jumlahnya berlipat-lipat, maka muncullah kepercayaan nasib yang ditentukan “dewa perang”. Atau siapa yang menggantungkan bintang di langit setinggi itu, matahari terbit setiap pagi, bulan purnama bersinar indah?

Salah satu pendekatan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang belum dimengerti tersebut adalah sains.
Setelah merumuskan teori dan implikasinya, lalu dikonfirmasi oleh percobaan, fenomena pohon kelapa terbakar tadi dapat dijelaskan melalui “fisika sederhana”. Dengan memahami komposisi pasukan, faktor pemimpin, spirit pasukan, atau tujuan peperangan, seorang ahli strategi bisa mengatakan bahwa pasukan sedikit yang menang tadi merupakan contoh “seni perang”. Masalah bintang, matahari, dan bulan itu urusan astronomi.

Dari sini, banyak kejadian atau hal yang tak dimengerti sebelumnya dapat dijelaskan secara logis. Kita jadi tahu bahwa bumi ini bulat. Kita juga jadi tahu bahwa penyakit flu bisa diobati sehingga tak menyebabkan kematian massal seperti yang terjadi di zaman Inca.

Tentu sains tak sebatas sains eksak. Dari sisi psikologi, misalnya, kita bisa membangun rumah sakit jiwa.
Secara keseluruhan, sains membantu kita memahami bagaimana alam semesta ini bekerja.

Efek sampingnya, bagi yang mendapat kepuasan dengan penjelasan-penjelasan sains itu, ia jadi tak memerlukan lagi ide zat transendental tadi. Toh ia tahu bahwa orang yang duduk lama di bawa pohon rindang bisa pingsan karena kekurangan oksigen, bukan karena penunggu pohon. Bahkan ia tahu kapan matahari akan padam.

Lebih jauh, sains tak mendeteksi adanya zat transendental. Sains tak mendeteksi adanya Tuhan. Tuhan tak bisa dilihat, tak bisa diraba, atau tak dapat dicicipi. Tak pernah terjadi, misalnya, seorang ahli optik setelah bekerja selama 10 tahun dengan penuh dedikasi, tibalah suatu hari ia berlari keluar laboratorium sambil berteriak, “Eureka! Eureka…!” Ia telah melihat Tuhan melalui teropong!

Tak pernah.

Orang-orang yang tak mendeteksi adanya Tuhan secara ilmiah itu lalu menyimpulkan dengan lantang bahwa Tuhan tidak ada. Bahwa alam semesta ini muncul dari ketaksengajaan (coincidence), bukan diciptakan. Kita sebut saja kelompok orang ini sebagai materialis.

Berpikir Seperti Saintis

Seseorang mungkin akan membuat Anda ragu dengan pertanyaan: “Sains tahu jawabannya, kenapa Anda masih percaya Tuhan?” Mari kita bantah dengan beberapa poin berikut.

1. Postulat

Secanggih-canggihnya pencapaian sains, semuanya berdasar pada postulat. Postulat adalah pernyataan yang dianggap benar tanpa pembuktian. Dari postulat ini dapat diturunkan implikasi-implikasi lain sehingga terkonstruksi suatu bangunan ilmu pengetahuan; biasanya dinyatakan dalam teorema, proposisi, dan akibat (corollary). Salah satu postulat yang terkenal adalah Hukum Kekekalan Energi:

Energi tak dapat dimusnahkan dan diciptakan. Ia hanya berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain.

Pernyataan ini diterima begitu saja, dianggap benar tanpa perlu dibuktikan. Seorang saintis sama sekali tak bereksperimen untuk menciptakan energi baru, tak pula ia berusaha memusnahkan suatu energi. Pokoknya itu benar.

Jika digabungkan dengan Hukum Kekekalan Massa, didapat ekuivalensi antara masa dan energi seperti E=mc2 yang terkenal itu.

Contoh lain:

Hanya ada tepat satu garis yang melalui dua titik yang berbeda.

Pernyataan ini tak pernah dibuktikan, tapi implikasinya sangat dahsyat. Salah satunya kajian geometri bola (Spherical Geometry). Ambil contoh bola dunia. Jika bumi dianggap bola berjari-jari 1 m, tahukah Anda luas seluruh permukaan bumi 4 pi m2 itu akibat dari pernyataan di atas? Atau tahukah Anda berapa jumlah minimal satelit agar GPS berfungsi dengan baik di seluruh permukaan bumi?

2. Asumsi

Perilaku alam ini sungguh kompleks. Berinteraksi satu sama lain; Berubah terhadap waktu; Sementara otak manusia tak bisa mengimbangi. Karena itu, diperlukan suatu penyederhanaan agar mudah dipahami tanpa menghilangkan keadaan yang sebenarnya. Alat untuk menyederhanakan tersebut, saintis bermain dengan asumsi. Asumsikan “begini”, didapat suatu rumusan. Asumsikan “begini dan begitu”, didapat rumusan yang berlainan (atau berkaitan).

Misalnya, jika Anda ingin menentukan waktu tercepat untuk menempuh Jakarta-Bandung, percayalah, asumsikan bukan hari libur.

3. Tingkat Kepercayaan

Untuk ilmu-ilmu yang bukan teoritis/analitis, struktur bangunannya dibentuk dari hasil pengamatan/percobaan. Perlu diketahui bahwa perilaku alam ini juga tak bisa ditentukan secara pasti. Kita hanya mengamati suatu kejadian berdasar pada “peluang” ia terjadi. Dengan asumsi yang sesuai, suatu pengamatan akan diinterpretasikan “selogis mungkin” dengan “kesalahan sekecil mungkin”. Keberterimaan suatu interpretasi ditentukan oleh tingkat kepercayaan (level of acceptance). Dalam ilmu statistik, jika tingkat kepercayaan ini tinggi, 95% misalnya, kesimpulan dari suatu percobaan dapat dipandang ilmiah.

Meskipun ada kesalahan, kita mempertahankan interpretasi ini karena Hukum Bilangan Besar dan Teorema Limit Pusat (Central Limit Theorem), dalam artian: jika perlakuan terhadap sampel percobaan dilakukan berulang-ulang “cukup besar”, interpretasi akan “konvergen” (converge) ke keadaan yang sebenarnya.

Memahami ketiga hal di atas, kita bisa mematahkan prinsip materialis dengan satu sudut pandang saja: cacat logika (logic flaw).

Keunggulan metode sain melalui ketiga dasar di atas terletak pada kemampuan sains untuk “memprediksi” suatu kejadian. Hasil dari keunggulan tersebut termanifestasi dalam “produk sains”. Misalnya, dalam ilmu kimia kita kenal efek fotolistrik, maka kita bisa membuat mesin foto kopi.

Prediksi yang paling menakjubkan terjadi pada relativitas ruang dan waktu dalam teori relativitas Einstein: bahwa di sekitar benda yang massif, ruang itu melengkung. Ini “dikonfirmasi” oleh pengamatan Eddington dengan memotret benda langit saat gerhana matahari. Terlihat benda yang sama memiliki citra yang berbeda karena cahaya tidak merambat lurus. Ilustrasinya, jika sebuah pintu “sangat berat”, cahaya yang mengenai benda di balik pintu “berbelok” ke samping pintu sehingga sampai di mata kita, karena ruang di sekitar pintu itu melengkung, sehingga kita bisa melihat benda tersebut seolah-olah pintu tembus pandang.

Pengkonfirmasian teori melalui percobaan ini perlu kita luruskan. Ingat bahwa interpretasi “Tuhan tidak ada” tunduk pada implikasi dari postulat awal yang dibentuk. Penghubung antara postulat dan interpretasi adalah serangkaian hubungan sebab-akibat. Seperti yang pernah kita pelajari di SMA kelas 1 dulu, bentuk sebab-akibat yang paling umum dan sederhana bisa diambil contoh berikut.

“Jika saya lapar, maka saya makan.”

atau

“Semua orang Subang adalah warga Indonesia.”

Hasil konfirmasi itu terletak setelah kata “maka”. Secara pasti:

Jika teori berlaku, maka konfirmasi terjadi.

Padahal kita tahu:

Kalau saya makan, belum tentu saya lapar. Bisa saja karena memang saya rakus.

Atau bukankah tidak semua warga Indonesia itu orang Subang? Ada orang Bali!

Selanjutnya, kalau saya tak lapar, apakah saya tidak akan makan? Belum tentu. Bisa saja saya makan meskipun belum lapar. Atau kalau saya bukan orang Subang, apakah saya bukan warga Indonesia? Belum tentu. Saya mungkin orang Medan, tapi saya masih warga Indonesia.

Nah, interpretasi eksistensi Tuhan melalui pendeteksian oleh sains bisa kita tulis sebagai berikut.

“Jika Tuhan terdeteksi, maka Tuhan ada.”

Seperti penalaran sebelumnya, bukankah:
Jika Tuhan tak terdeteksi, belum tentu Tuhan tidak ada. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.
Jika Tuhan ada, belum tentu Tuhan terdeteksi. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.

Jadi, ketidakmampuan manusia mendeteksi Tuhan secara fisik (Tuhan tak terlihat, tak dapat dicicipi, atau tak dapat diraba), sama sekali tak menghilangkan fakta eksistensi Tuhan itu sendiri!

Holistik

Kesadaran akan adanya zat transendental juga muncul ketika kita memandang kehidupan dan alam semesta secara keseluruhan/holistik. Tadi kita melihat dari sisi “Bagaimana bumi mengelilingi matahari?”, sekarang kita lihat dari “Kenapa hanya di planet bumi terdapat makhluk hidup?”. Untuk itu, mari kita sikapi ketidakmengertian akan fenomena-fenomena seperti pohon kelapa terbakar bukan pada “bagaimana”, melainkan pada “latar belakang dan tujuan”. Ilustrasi yang paling umum adalah sebagai berikut.

Jika Anda pergi ke suatu kota, lalu Anda melihat gedung yang sangat indah, Anda akan bertanya-tanya: siapa pemilik gedung ini? siapa arsiteknya?, jumlah pegawainya?

Saya jawab:

Tidak ada yang mengerjakan gedung tersebut, apalagi arsitek. Gedungnya tiba-tiba tadi pagi ada di sana. Mungkin batu-batu dari gunung terbawa longsor, kaca dan besi berkumpul, lalu terbentuklah bangunan indah. Singkatnya, gedung itu terbangun secara kebetulan.

Anda menyangkal: tidak mungkin!

Nah, mari kita terapkan penalaran yang sama terhadap alam semesta. Apakah Anda tidak merasakan keindahan bintang-bintang yang bersinar di malam hari itu? Pernahkah Anda mengajak kekasih Anda untuk menyaksikan matahari terbit dari atas bukit? Lalu Anda berpikir bahwa keindahan itu terjadi secara kebetulan?

Kita sangkal: tidak mungkin!

Orang-orang yang menyadari adanya “campur tangan” zat transendental, secara naluriah akan mencari siapa/apa zat tersebut. Sama seperti ketika kita sudah yakin bahwa gedung indah di kota tadi pasti dibangun, kita akan mencari siapa arsiteknya. Kelompok orang ini lalu masuk ke pencarian Tuhan.

Kita ambil contoh cara Nabi Ibrahim berdakwah kepada kaumnya. Misalkan seseorang awalnya mengira matahari adalah Tuhannya, tapi ketika matahari terbenam, ia ragu, harusnya Tuhan tidak terbenam. Kemudian ia menganggap bulan itu Tuhan, tapi ketika datang siang, ia ragu, harusnya Tuhan tidak hilang siang dan malam.

Sama seperti kita mencari sesuatu, kita bisa menemukan sesuatu itu karena hal-hal berikut.

1. Tanda-tanda

Kalau kita mencari kuda hilang, kita akan memperhatikan tapak kakinya.

2. Informasi dari orang lain

Kita akan bertanya, barangkali ada yang melihat kuda.

3. Sesuatu itu sendiri yang menampakkan diri.

Kudanya sendiri yang menampakkan diri kepada kita.

Ide zat transendental tadi baru sampai pada poin 1. Kita baru menyadari bahwa ada tapak kuda, kita melihat bintang-bintang yang menakjubkan. Poin 2 bisa terjadi kalau memang ada yang telah melihat zat tersebut. Sampai sini, Tuhan tahu keterbatasan manusia; dengan segala kesibukannya, egoismenya, atau godaan setan. Tuhan juga tahu sains tidak akan mendeteksi diri-Nya. Maka, kita perlu poin 3. Jadi, Tuhan sendiri yang akhirnya memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada manusia.

Tapi Tuhan selektif, Ia tak memberi tahu sembarang orang. Ia hanya memberi tahu orang-orang yang benar-benar mencari Tuhan. Lebih jauh, Tuhan memperkenalkan diri lewat manusia pilihan yang disiapkan untuk member tahu manusia lainnya. Dalam hal ini, kita namai nabi.

Nah, saya akan menggunakan informasi yang diberikan Tuhan kepada nabi tersebut seakan-akan kita sudah tahu bahwa informasi tersebut valid/otentik/benar. Kita akan lihat nanti bagaimana satu informasi bisa didapat dari informasi lain dan antar informasi saling menguatkan, termasuk klaim validasi itu sendiri. Dan sumber informasi yang digunakan adalah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur’an.

Perhatikanlah bagaimana cara Tuhan memperkenalkan diri melalui ayat-ayat berikut.

1. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha 20:14)

Secara gamblang:

“Sampaikan kepada orang-orang yang mencari Tuhan itu, Muhammad, Akulah Allah, Tuhan kalian. Aku yang menciptakan langit dan bumi, bahkan diri kalian sendiri. Lalu beribadahlah kepadaku supaya kalian ingat terus, tidak lupa, tidak tersesat.”

Tapi apakah Muhammad sekadar menciptakan ide transendental melalui kepalanya sendiri? Apakah konsep Allah itu hasil pemikirannya sendiri? Sekadar untuk menarik simpati dengan membuat wadah keagamaan? Tidak. Allah sendiri memberi tahu:

2. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm 53:3-4)

Secara gamblang:

“Hey, kamu yang masih ragu-ragu, juga kamu yang mencari-cari kesalahan, apa yang dikatakan Muhammad itu bukan berasal dari pikirannya, tapi datang dari Aku, Tuhan kalian.”

Untuk lebih meyakinkan bahwa Al-Qur’an ini datang dari Tuhan, Tuhan sendiri memberikan ruang kontemplasi:

3. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. Al-An’am 4:82)

Tapi di dalam Al-Qur’an tidak ada yang bertentangan, baik antar ayat, maupun dengan observasi sains. Maka, pastilah Al-Qur’an itu datang dari Tuhan. (Ingat, kalau saya tak makan, pastilah saya tak lapar.)

Apa? Anda masih menolak? Tuhan menantang Anda:

4. “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah 2:23)

Secara gamblang:

“Kalau Anda tidak bisa membuat satu ayat saja yang seperti Al-Qur’an, maka Anda orang-orang yang salah. Jadi, akuilah bahwa Aku ini Tuhanmu.”

Menurut hemat saya, kalau Anda mencoba membuat-buat satu surat saja, secara tak langsung Anda telah mengakui bahwa itu perkataan Tuhan. Anda hanya mencari-cari fitnah.

Jika kita mengasosiasikan Tuhan sebagai zat yang menciptakan alam semesta, wajarlah jika kita menganggap-Nya sangat hebat, sementara kita makhluk kerdil yang tak ada apa-apanya. Tuhan menciptakan DNA, sementara manusia harus berabad-abad untuk mengetahui adanya DNA.

Dengan hanya 4 pokok pengenalan tersebut, pembuktian eksistensi Tuhan sepenuhnya terletak pada validasi Al-Qur’an. Padahal, validasi ini telah diberikan oleh poin 3:

Al-Qur’an datang dari Tuhan, maka seluruh isinya merupakan kebenaran.

Sampai sini, kita sudah membuktikan bahwa Tuhan itu ada.
Lalu, untuk membuktikan bahwa Tuhan itu hanya satu, kita ambil saja ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Katakanlah (olehmu, Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.” (QS. Al-Ikhlash 112:1)

Jadi, Tuhan itu ada dan hanya satu, yaitu Allah.

Bukti lengkap.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18191/bukti-tidak-ada-tuhan-selain-allah/#ixzz1kuRQr4mn

Waktu




Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Ketika kita membahas tentang sebuah masa atau kehidupan di dunia ini maka, kita tidak akan lepas oleh sesuatu yang menamakan dirinya waktu. Mulai dari sekecil apapun aktivitas kita di dalamnya selalu dikaitkan dengan waktu. Berkaitan dengan masa hidup manusia, perjalanan waktu merupakan pertambahan umur dan sekaligus pengurangan umur. Umur manusia itu adalah terbatas. Jika mur manusia berkurang, maka kesempatan hidup pun semakin sempit dan pendek. Jadi, apabila kita tidak bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan, maka semakin sulit kita untuk kembali membangun dan mengembangkan potensi.

Karena hidup sangat dibatasi oleh waktu. Dan manusia pasti mengalami titik kematian, kemudian meninggalkan dunia yang temporal ini. Perenungan jujur kepada realita ini, menyadarkan kita bahwa dunia hanya persinggahan sementara. Hari ini kita ada, tapi esok semua akan berlalu.

Dimulai ketika manusia terlahir. Dari seorang ibu yang melahirkan bayi, hingga tumbuh besar menjadi anak-anak, remaja dan kemudian beranjak dewasa. Semuanya terangkum dalam akumulasi waktu ketika usia seseorang mulai menumpuk dan akal mulai sering terpakai untuk menganalisa berbagai macam hal. Justru pada titik ini, banyak orang yang tidak menyadari dan menghayati tentang berharganya sebuah waktu. Setiap kali kita membuka mata pada hari yang baru, pada pergantian bulan dan tahun yang baru, secara sadar atau tidak, manusia terseret ke dalam sebuah rangkaian perjalanan waktu, dimana sebuah perjalanan ini tidak bisa dihentikan. Dan setiap detik-detik waktu adalah perjalanan suatu masa yang permanen dan tidak akan pernah terulang lagi.

Dengan menyadari bahwa durasi (rentang waktu) umur manusia sangat terbatas, maka adalah sebuah kebodohan besar jika manusia membuang waktunya dengan hal yang tidak bernilai. Sebab di dalam ruang waktu tersimpan kesempatan yang harus kita isi dengan keseimbangan pencapaian kebutuhan, baik jasmani (dunia) maupun rohani (akhirat). Untuk mencapai keseimbangan, terdapat 2 kelompok yang perlu kita perhatikan:

Pertama, untuk golongan masyarakat yang hanya sebatas ingin memenuhi kebutuhan hidup, tanpa berkeinginan lain yang lebih. Kebanyakan dari mereka banyak sekali melewatkan kesempatan untuk bisa mencapai posisi yang lebih tinggi. Baginya asal sudah bisa memenuhi kebutuhan primer, ya sudah. Tanpa perlu memikirkan, bagaimana bisa menciptakan sebuah piramida kehidupan, dan kita bisa berdiri di atasnya. Kelompok pertama ini, tergolongkan pada orang-orang yang tidak menghargai waktu dalam hidupnya. Hal ini tentu sangat disesalkan.

Kedua, adalah orang-orang yang berambisi besar, menjadi yang paling hebat. Tanpa dibarengi perlengkapan kebutuhan spiritual yang membawa kita pada pencapaian kebutuhan rohani (akhirat). Sekalipun orang ini dikelompokkan pada golongan orang yang rajin. Yang jelas, sebagian besar dari masyarakat ini, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai yang paling atas. Tanpa perlu menengok lebih jauh, di manakah kedalaman makna atas yang sebenar-benarnya. Yakni ketinggian kedudukan yang baik nilainya menurut kita dan juga baik di hadapan Allah SWT. Golongan masyarakat ini pun, termasuk orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu. Sebab tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada, agar menjadi manusia yang menuju sempurna. Berhasil di dunia, dan juga di akhirat. Sayang sekali bukan.

Sebagai bahan perenungan saja, kelompok orang yang tidak menghargai waktu lambat laun bisa membawa manusia itu sendiri pada keterpurukan hidupnya. Bahkan pada kehancuran suatu bangsa. Kenapa urusan diri pribadi bisa meluas pada kelompok yang lebih besar? Sebab bangsa yang besar terbentuk dan terbangun dari sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu mengkombinasikan semuanya menjadi sebuah kondisi yang seimbang antara kebutuhan duniawi dan kebutuhan akhirat yang terimplementasikan dalam sebuah pemanfaatan waktu dan kesempatan yang menghampirinya.

Oleh sebab itu, marilah kita berintrospeksi diri. Sudahkah kita memanfaatkan kesempatan dalam satu kali kesempatan hidup ini? Agar hidup yang kita nikmati, bisa termanfaatkan waktunya secara maksimal. Tanpa secelah waktu yang terlewat dengan sia-sia dan percuma.

Tetap pandangan lurus ke depan. Penuh visi dan misi, agar memacu kita menjadi manusia yang hebat. Hebat di dunia dan hebat di mata Allah SWT. Berusahalah mencapai setinggi-tingginya derajat. Jangan pernah putus asa untuk menjadi lebih baik. Karena tak ada kata terlambat untuk sebuah proses menuju peningkatan hidup yang lebih baik. Sebagai penutup, jadilah individu yang bisa menghargai waktu. Insya Allah, predikat manusia yang menuju sempurna bisa tercapai. Amin.

Semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini bisa memberikan manfaat sekaligus sebagai bahan perenungan tentang segala yang pernah dan sedang kita lakukan sampai pada usia kita sekarang.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18281/waktu/#ixzz1kuQtdnMb

Waspada, Ada 300 Aliran Sesat Merajalela di Negeri Ini

Minggu, 29 Januari 2012 15:04 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 300 aliran keagamaan yang sesat. Dalam mengamalkan ajarannya, mereka selalu mengklaim berdasarkan Alquran dan hadist. Untuk itu, Muslim diminta waspada dengan aliran keagamaan yang mendompleng Alquran dan Sunnah.

"Dari penelitian kami, ada lebih dari 300 aliran sesat di negeri ini," kata Direktur Islamic Center Al-Islam, Bekasi, Ustadz Farid Okbah, pada bedah bukunya berjudul 'Hidup Hanya Sekali, Jangan Salah Jalan,' di Masjid Nurul Ulul, kompleks Islamic Centre Rajabasa, Bandar Lampung, Ahad (29/1).

Bedah buku ini, menghadirkan pembedah ustadz Agus Supriadi Lc, dari yayasan Pondok Pesantren Ulul Albab, Jatiagung, Lampung Selatan. Aliran sesat ini, ungkap Farid, mulai dari kecil hingga yang besar dan nyata-nyata dalam menjalankan ajarannya.

Selain itu, ia mengungkapkan aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Alquran dan Sunnah selalu mengajak umat kepada jalan kesesatan yang jauh dari agama Islam sesuai dengan Alquran dan Sunnah.

Ia berharap umat Islam wasdapa jika ada seorang atau ustadz yang mengajak atau mengajarkan yang menyimpang dari petunjuk Alquran dan Sunnah, tetapi mengklaim berdasarkan Alquran dan Sunnah. "Umat Islam harus faham ajaran agama yang benar merujuk pada Alquran dan sunnah Rasul saw dan para sahabat," katanya.

Menurut dia, Islam sudah mengajarkan ada dua jalan apabila ingin selamat. Pertama, jalan yang lurus atau benar (sabili muslimin). Kedua, jalan kesesatan (sabili mujrimin). Jalan kesesatan yakni jalannya orang yang selalu berbuat dosa dan menjerumuskan ke dalam api neraka. Sedangkan jalan yang lurus dan benar adalah jalan yang ditempuh kaum Muslimin untuk menghadap Allah SWT.
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: mursalin yasland

Ini Dia Bangunan yang Membuat Kulit Bung Karno "Bentol"

Minggu, 29 Januari 2012 13:59 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, Puas menikmati bangunan utama Istana Cipanas, rombongan melancong Bareng Abah Alwi segera melanjutkan perjalanan menuju gedung yang dibangun oleh Presiden Soekarno pada tahun 1954.

Jaraknya sekitar 100 meter dari bangunan utama. Letaknya, sedikit diatas. Untuk menuju ke tempat itu, rombongan harus menaiki anak tangga. Sepanjang menuju bangunan itu, rombongan diperlihatkan pemandangan asri khas daerah pegunungan. Kanan-kiri jalan terdapat pepohonan tinggi menjulang.

Lalu terlihatlah bangunan mungil. Ukurannya 3x5x2 meter. Bangunan itu didominasi batu. Masuk ke dalam, terdapat meja coklat dan bangku menghadap jendela. Pada jendala itu terpapar pemandangan luar biasa. Pada dindingnya terdapat foto bung Karno.

"Nama bangunan ini adalah gedung Bentol, bentol sendiri bermakna bekas gigitan nyamuk. Namun sebenarnya, bentol itu adalah lantai batu yang menonjol layaknya kulit yang bentol akibat digigit nyamuk," kata Ade.

Ia menjelaskan bangunan ini digunakan oleh bung Karno untuk mengasingkan diri, menenangkan pikiran sekaligus mencari inspirasi saat membuat pidato, terutama saat-saat menjelang HUT Proklamasi Kemerdekaan.

Jelas saja, Bung Karno menyukai bangunan ini. Secara sekilas saja, bangunan rumah ini membuat betah penghuninya. Kecil, imut dan dikelilingi pemandangan luar biasa. Ke dalam, tanpa perlu perapian, dalam ruangan cukup hangat.

Kondisi bangunan ini cukup terawat. Sayang, semenjak Bung Karno, tidak ada lagi yang menggunakannya.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: agung sasongko

Kisah si Pemalas dengan Abu Hanifah


Akhwatmuslimah.com – Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, “Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik sahaja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis, ” Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, “Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku.”
Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang sebaik sahaja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya, “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berjaya.”

Sebaik sahaja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sedar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.
Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu.
Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita tersadai di tepi jalan.