Selasa, 29 November 2011

Indonesia dan ASEAN dalam Percaturan Antarkawasan


Tuesday, 29 November 2011
ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang menarik dengan wilayah yang kaya sumber daya alam (SDA) serta memiliki bonus demografi, yaitu proporsi yang besar pada usia muda dengan pendidikan yang relatif baik untuk menerima transfer dan bahkan mengembangkan teknologi.

Menurut Bank Dunia, pada 2010 produksi domestik bruto (PDB) kawasan ini diperkirakan USD1,8 triliun dan dengan jumlah penduduk sekitar 543 juta atau pendapatan per kapita USD3.300 lebih.ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang pantas diperhitungkan dibandingkan China dengan PDB USD5,8 triliun dan penduduk 1,34 miliar atau pendapatan per kapita USD4.400 serta India dengan PDB USD1,73 triliun dan penduduk 1,17 miliar atau pendapatan per kapita USD1.470. Integrasi ekonomi ASEAN yang diharapkan terealisasi lebih cepat pada 2015 akan menjadikannya kawasan ekonomi yang kuat dan tumbuh.

Kawasan ini termasuk kawasan yang tumbuh pesat di Asia dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,23% per tahun. Memang tidak tumbuh secepat China yang rata-rata tumbuh 11,2% atau India yang tumbuh sekitar 8,6%, tetapi pertumbuhan kawasan ini cukup mengesankan dan bersifat jangka panjang. Krisis di Barat yang bersumber pada investasi pasar uang dapat dialirkan kekuatannya di kawasan ini karena modal masih bisa tumbuh dengan meningkatkan produksi di sektor riil.Perputaran modal di Barat yang tidak terserap di sektor riil, yang menyebabkannya menjadi gelembungekonomi seperti aliran air yang menggenang, perlu disalurkan kepada wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan dan salah satu alternatifnya adalah kawasan ASEAN.

Upah tenaga kerja di wilayah ini tentu saja beragam dari yang rendah seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina sampai yang agak tinggi dan cukup tinggi di Thailand, Malaysia, dan Singapura.Struktur upah ini memberi peluang kepada industri yang mungkin berkembang di wilayah ini sesuai dengan produktivitasnya. ASEAN dengan variasinya merupakan wilayah yang secara politis cukup stabil, terutama perlindungan dan pengakuan terhadap modal asing yang secara hukum dilindungi dan secara kontraktual banyak dimanjakan.

Bagaimanapun kawasan ini lebih tepat disebut sebagai kawasan investasi dan diseminasi teknologi asing daripada pengembangan internalnya yang bagaimanapun masih berada di belakang. Hal ini tergambar dari posisi universitas dan lembaga riset di dalamnya dalam percaturan global, demikian pula riset dan pengembangan produk di sektor industri.

Indonesia dan ASEAN

Dengan menjadi anggota G- 20,peran Indonesia di kawasan ini cukup menonjol. Ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan ini dengan PDB USD706,5 miliar dan tenaga kerja yang melimpah. Integrasi kawasan ini menjadi satu teritori ekonomi tentu membawa perubahan dengan lalu lintas modal dan sumber daya manusia. Potensi aliran modal internal ASEAN mengalir dari Singapura, Brunei, dan Malaysia serta aliran tenaga kerja bersumber dari Indonesia, Vietnam, dan Filipina.

Integrasi ekonomi kawasan ini akan mendorong investasi dari kawasan lain seperti Jepang dan Korea serta Amerika Serikat dan Eropa. Daya tarik tersebut memungkinkan luberan modal dan teknologi dari kawasan lain serta sumber daya manusia yang berlebih membentuk pasarnya sendiri. Upah dan perolehan atas tanah dan bahan baku dapat dipadukan dengan aliran modal dan teknologi yang mandek di Barat yang akan membentuk pasar baru di kawasan ini.Pasar ini merupakan sumber return atas modal yang kini memutar di sektor nonriil dan yang menyebabkan krisis di negara maju.

Menjadi pasar bukanlah hal yang salah karena pasar juga akan menarik bagi sumber pertumbuhan baru.Tapi menjadi pasar adalah salah jika dibarengi dengan pengangguran tinggi dan terkurasnya sumber daya alam saja.Hal tersebut benar-benar bermakna mengonsumsi tanpa berpartisipasi atau bermakna mengonsumsi hanya dengan jalan menukar sumber daya alamnya. Hal tersebut tentu dibarengi dengan suasana yang timpang yang berbentuk negara feodal baru.Negara hanya mengandalkan kesuksesan elite politik dan bisnis tinggi dan bukan kesuksesan ketenagakerjaan yang meluas dan merata.

Surplus atau bonus demografi benar-benar harus dijadikan berkah oleh Indonesia, yaitu sebagai sumber tenaga kerja yang apabila berhasil bekerja dan punya penghasilan tentu saja akan menjadi daya tarik pasar tersendiri. Integrasi ekonomi ASEAN tentu saja secara alami akan direspons oleh masyarakat dengan jalan melakukan mobilitas ke sesama negara anggota, tetapi peran negara sangat menentukan untuk akselerasi mengingat permasalahan yang begitu tinggi. Intensitas integrasi ekonomi ASEAN justru akan membendung kekhawatiran terhadap dominasi industri China, singkatnya akan menjadi kawasan kembar.

Modal dan teknologi dari kawasan lain tentu saja akan berpikir ulang untuk mengabaikan lokasi usaha di ASEAN. Selain itu, kemajuan ekonomi China tentu akan berdampak terhadap tuntutan upah yang menyebabkan daya siangnya akan kembali normal dan hal tersebut semakin memberi celah bagi ASEAN. Bangkitnya industri ASEAN akan sangat membantu tenaga kerja untuk memperoleh penghasilan dan dengan demikian akan membantu perbaikan taraf hidup keluargakeluarga.

Dengan integrasi dan mobilitas demografi, pilihan investasi justru sebaiknya berlokasi di negara yang memiliki upah relatif baik, seperti Singapura atau Malaysia, karena hal tersebut akan sangat bermakna untuk memperbaiki keluarga pekerja. Budaya global tentu saja masih harus ditingkatkan dengan perbaikan pendidikan untuk menjadi lebih melek hukum, hak asasi, dan disiplin masyarakat industri.

PROF BAMBANG SETIAJI
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar