Selasa, 29 November 2011

RESUME BUKU “ MENGENAL CULTURAL STUDIES FOR BEGINNERS”




FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

RESUME BUKU “ MENGENAL CULTURAL STUDIES FOR BEGINNERS”


Oleh:
Nama               : Oktodinata
Nim                  : 07081002035
Jurusan : Sosiologi
Mata kuliah      : Kapita Selekta Sosiologi

DOSEN PENGASUH
Dr. Ridho Taqwa



FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

Pengertian Cultural Studies
Cultural studies adalah suatu bidang studi yang memikat “hangat”. Ia telah menjadi kegemaran ditengah-tengah kalangan progresif-setidaknya karena budaya (culture) sebagai tema atau topik studi telah mengggantikan masyarakat sebagai subjek telaah  umum di tengah kalangan tersebut. Terlebih dahulu kita mengartikan apa itu budaya? Menurut antropolog Inggris, Sir E.B Taylor (1832-1917) dalam bukunya Primitive Culture (1871) budaya adalah keseluruhan yang  kompleks termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istidat, dan kemampuan serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Subjek dari Cultural Studies
Titik pijakannya adalah sebuah  gagasan tentang budaya yang sangat luas dan mencakup segala hal  yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari aneka praktik, keterbatasan dalam prinsip, teori, dan metode. Tidak memilki teori dan metodeloginya sendiri berfungsi meminjam secara bebas dari disiplin ilmu sosial, humaniora dan seni mengambil teori antropologi, sosiologi, psikologi linguistik, kritisme sastra, teori seni filsafat, ilmu politik dan mistologi. Itulah sebabnya Cultural Studies sering digambarkan sebagai “anti disiplin” –cara penyelidikan yang tidak mengikuti baju pengekang disiplin-disiplin yang terlembagakan.
Karakteristik Cultural Studies
1.      Cultural Studies bertujuan mengkaji pokok persoalannya dari sudut praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan
2.      Cultural Studies tidak hanya studi tentang budaya, seakan-akan ia merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya
3.      Budaya dalam Cultural Studies selalu menamlpilkan dua fungsi: ia sekligus merupakan objek studi maupun lokasi tindakan dan kritisme politik.
4.      Berupaya mendamaikan pengotakan pengetahuan mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan bersama.
5.      Melibatkan dirinya dengan evaluasi moral masyarakat modern dan dengan garis tindakan poitik.
Penerapan Cultural Studies: Semiotika
Sebuah konsep utama dalam Cultural Studies adalah konsep tanda (sign) tanda memiliki tiga karakteristik dasar:
Ø  Memiliki bentuk yang konkret
Ø  Merujuk pada sesuatu yang bukan dirinya sendiri
Ø  Dapat dikenali kebanyakam orang sebagai tanda, yang dirujuk oleh tanda, asosiasi mentalnya dikenal sebagai petanda (signified)
Tanda, kode dan teks
Tanda sering disusun sebagai kode, yang ditentukan oleh aturan-aturan implisit dan eksplisit yang disepakati oleh anggota suatu kebudayaan atau kelompok sosial. Teks hanya dapat diapresiasi secara utuh, jika dilihat dari konteks, kombinasi tanda dan penandaan betul-betul dipertimbangkan, lingkungan umum tempat teks tersebut berada juga diperhitungkan.
            Representasi dari Yang-lain (The Other)
            Proses dan produknya yang member makna khusus pada tanda adalah reperesentasi. Representasi paling umum dari Yang-lain adalah sebagai sisi tergelap, oposisi biner dari dirinya  sendiri : kita beradap, mereka barbar; kolonialis adalah pekerja keras, pribumi adalah pemalas.
Asal –usul Cultural Studies
Berasal dari Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham, tahun 1964. Menerbitkan edisi pertama Working Papers in Cultural Studies dengan tujuan khusus mendefinisikan dan mengisi ruang serta meletakkan Cultural Studies pada peta intelektual
Para Bapak Pendiri
Richard Hoggart
Hoggart berarugumen bahwa pembacaan kritis terhadap seni dapat menampakkan “kualitas perasaan kehidupan” suatu masyarakat . Hanya dengan yang dapat menciptakan kembali kehidupan dalam segala keragaman dan komleksitasnya yang kaya. Dan hanya seni yang sanggup membawa kita keluar dari pengalaman keseharian yan terikat waktu, tetapi kelas pekerja terjepit diantara elit media dan elit seni
Raymond Williams
Adalah melihat praktik melihat kebudayaan sebagai ekspresi spesifik dari komunitas organic yang koheren dan melawan determinisme dalam berbagai bentuknya. Tetapi praktik menetapkan nilai yang secara inheren dan permanen baik dan yang secara inheren permanen buruk bukanlah suatu upaya tanpa noda. Nilai dapat digunakan untuk mendukung dan  menopang struktur ideologis yang ada dan sebagai ekspresi yang merendahkan upaya-upaya umum dari orang-orang awam.
E.P Thompson: Memahami Kelas
Mencoba menunjukkan bagaimana kelas pekerja Inggris muncul dala periode sejarah tertentu. Beliau menemukan kembali perantara, perhatian, dan pengalaman massa populasi Inggris yang telah diabaikan oleh tradisi sejarah konvensional yang dominan, perbedaan utama dengan Marxis teoritis dan sosiolog adalah desakan Thompson bahwa kelas adalah fenomena sejarah yang tidak dapat dipahami sebagai struktur atau kategori.
Stuart Hall
Praktik intelektual, berpendapat bahwa Cultural Studies perlu mempertahankan masalah teoritis dan politis dalam ketegangan yang senantiasa tak terpecahkan namu permanen, membiarkan keduanya saling membuat jengkel, mengacaukan da menggannggu yang lain, mencoba menerima kekuatan-kekuatan yang bertentangan, menggunakannya dan menyalurkannya dalam arah yang kreatif dan politis. Masyarakat dikendalikan oleh konflik yang berdasarkan pada jenis kelamin, ras, agama, dan wilayah, maupun kelas, budaya juga membentuk rasa identitas manusia sama sperti ekonomi. Senantiasa bersikeras cultural studies sebenarnya dampak berdampak praktis pada realitas. Dibandingakn dengan mendesaknya orang-orang yang sekarat di jalanan, apa gunanya cultural studies, apa gunanya studi tentang representasi, jika tidak ada respon atas neasehat bagi seseorang bertanya apakah mereka  sebaiknya memakai obat untuk AIDS, dan jika hal tersebut  berarti bahwa mereka akan mati dua hari kemudian atau beberapa bulan cepat.
Cultural Studies Inggris
Selama pembentukannya, cultural studies Inggris sangat terpengaruh oleh New Left. Memang pembentukan dan perkembangan Kiri Baru dipandang banyak sejarahwan sebagai perintis jalan bagi cultural studies, penindasan Stalin yang brutal terhadap pemberontakkan rakyat di Negara “Blok Soviet” Hongaria menjadi suatu peristiwa yang menentukan bagi komunisme Eropa Barat. Banyak di antara mereka yang mencela Marxisme ala Stalinis kemudian membentuk Kiri Bru. Para mahasiswa dan intelektual dari bekas koloni inggris, yang berpindah ke golongan pinggiran dan tidak pernah dibolehkan menjadi bagian lembaga-lembaga dominan Kiri Inggris, telah memainkan peranan penting dalam pembentukan kiri baru.
Internasionalisme Cultural Studies
Menurut Stuart Hill inilah titik penting dalam memahami baik sejarah Cultural Studies kiri baru maupun Inggris
Melebarkan isu
Perilaku kelompok-kelompok sperti mods, rocker, dan punk dipandang mewakili perlawanan simbolis terhadap system dominan, cultural studies di inggris berfokus pada citra wanita kemaskulinan dan sejarah seksualitas , mengkaji bagaimana masa lalu dihadirkan di museum. Cultural Studies Inggris dibedakan menjadi dua : keragaman dan orisinalitas yang luas biasa dari topik yang dikajinya, kedua; Cultural Studies Inggris selalu memilki dimensi politik
Strukturalisme Althusser
Filosofi Prancis Louis Althusser (1918-1990) mengimpor strkturalisme ke dalam marxisme dalam upaya menjadikannya sebuah ilmu pengetahuan. Stukturalisme memiliki dua aspek penting pertama, Pengakuan bahwa relasi yang berbeda adalah kunci untuk memahami budaya dan masyarakat kedua, akibatnya struktur tidak mendahului perwujudan relasi-relasi tersebut.
 Pengaruh Antonio Gramsci (1891-1937)
Ia menyatakan keheranannya melihat para petani yang seharusnya bersimpati pada kami, justru berkolaborasi melawan kepentingan kelas. Hal in dapat dicapai jika kelas atas melengkapi kekuatan ekonomi mereka dengan menciptakan kepemimpinan moral dan intelektual. Proses aktif ini yang beroperasi di sejumlah front, akhirnya menimbulkan keseimbangan kompromi di antara kelas-kelas bersaing.
Hegemoni
Istilah kunci dalam pemikiran Gramsci adalah hegemoni yang berarti hal yang mengikat masyarakat tanpa menggunakan kekuatan. Gramsci berpendapat bahwa semua manusia adalah intelektual. Tetapi tidak semua manusia dalam masyarkat memiliki fungsi intelektual sejalan dengan ide “subaltern” Sepanjang sejarah Cultural studies, gagasan Gramsci digunakan untuk menyingkap kecenderungan hegemonis tentang posisi kebudayaan, intelektual dan filosofis yag beragam.
Kritik Cultural Studies Inggris
Dikritik karena parokialisme dan anglosentrisme penekanannya yang berlebihan  terhadap kelas dengan mengorbankan ras dan jender juga perhatian berlebihan yang romantis terhadap gaya urban dan ritual subkultur . Kebudayaan popular Inggris diproyeksikan sebagai suatu model prototype untuk diikuti dunia Cultural Studies Inggris berbicara dari pusat-pusat metropolitan Birmingham dan London lokasi tempat perhatian dan persfektif pinggiran jarang dipertimbangkan. Cultural Studies Inggris berbicara mengenai kelas pekerja, wanita, kulit hitam dan minoritas lain tetapi para praktisinya sangat didominasi orang kulit putih kelas menengah. Berbicara memuja bentuk-bentuk seni popular tertentu sebagai arketipe kebudayaan.
Migrasi Cultural Studies
Lokasi baru perhatian Cultural Studies Inggris pada system kelas Inggris jadi tidak relevan lagi, terpecah dan meninggalkan daratan Inggris bermigrasi Ke Amerika Serikat, Kanada, Australia, Prancis dan India.
Cultural Studies Amerika
Dalam studi media, misalnya penekanan bergeser kearah etnografi khalayak. Peranan teks-teks media dalam penciptaan formasi kebudayaan popular dikaji. Ada juga tradisi minoritas studi komunikasi yang berusia lebih dari satu decade, mendukung penafsiran komunikasi sebagai suatu cara penciptaan dan transformasi budaya bersama. Karena itu Cultural Studies tidak terlalu sulit diadopsi dan diserap secara capat dalam struktur kelembagaan akademik AS.
Cultural Studies Kanada
Menaruh perhatian terutama pada persoalan dan isu mengenai nasionalitas orang-orang Kanada. Bagaimana orang-orang dari latar belakang yang beragam, tersebar di wilayah luas dan berpopulasi sedikit seperti itu bisa berubah menjadi bangsa yang padu. Bagaimana budaya Kanada melawan serangan gencar perbatasn selatan. Berfokus pada penyelidikan tentang definisi dirinya sendiri.
Cultural Studies Australia
Dirangkul oleh gerakan nasionalis kritis dalam studi sastra di Australia, berupaya memeriksa seluruh gagasan mengenai karakter nasional dalam film, sejarah, dan teori sastra dengan berfokus pada lembaga wacan adan teks-teks local sebagai tokohnya Mad Max.
Cultural Studies Prancis
Pertanyaan utama apakah pengetahuan kebudayaan (misalnya penguasaan bahasa) adalah basis esensial untuk menjadi Prancis. Pada awalnya, Prancis mengikuti kebijakan asimilasi sebagai tujuan akhir untuk mengangkat kebudayaan para imigran ke level yang disebut kebudayaan Prancis, kemudian mengasimilasi mereka ke dalam “Negara”
            Pierre Bourdieu (1930)
Sosiolog dan ahli pendidikan, adalah seorang eksponen cultural studies Prancis paling terkemuka Dia secara seksama memperlihatkan adanya hubungan yang intrinsik dan kompleks antara perjuangan bagi kekuasaan sosial dan penggunaan produk kebudayaan oleh kelompok-kelompok sosial yang berbeda sebuah karya seni yang memilki kepentingan dan makna hanya bagi mereka yang memiliki modal budaya dan dapat membaca kode-kode yang disandikan.
Cultural Studies Asia Selatan
Ada tiga mahzab yang berbeda ( dan sering bertempur) dari cultural studies Asia Selatan  Para sarjana di Centre for study of Developing Societies (CSDS), didirikan di Delhi pada 1963 mempraktikan satu model khusus cultural studies yang berakar dalam pengetahuan sosial yang berbentuk pribumi Karya teoritis dari Rajni Kothari, Ashis Nandy dan D.L. Sheth diantara yang lain mempermasalahkan ide tentang budaya dan sains yang telah distandarkan.
Para sarjana CSDS memusatkan perhatian terhadap tiga isu utama isu pertama berhubungan dengan pengalaman transformasi dan komunitas “pramodern” menuju masyarakat modern.Isu kedua mengenai percakapan budaya ketidakmengertian terkadang digunakan sebagai suatu metode yang bersifat provokatif secara teoritis untuk studi pembentukan budaya. Isu ketiga melibatkan penemuan kembali budaya dari mereka yang terpinggirkan secara politik oleh negara dan oleh ideologi hegemonic tentang nasionalisme, secularisme, sifat ilmiah rasionalitas dan universalisme budaya.
Cultural Studies Sains
Areanya adalah paling sensitif secara ideologis dari semuanya karena sains hingga kini masih merupakan totem budaya secular eropa. Nilai memasuki sains dengan sejumlah cara. Pintu masuknya pertama adalah seleksi permasalahan yang diteliti –pemilihan masalah, siapa, yang membuat pilihan itu dan atas dasar apa. Masyarakat, realitas politik dari system kekuasaan, prasangka dan system nilai akan mempengaruhi bahkan sains yang peing murni sekalipun.
Nilai juga memainkan bagian penting dalam menentukan apakah sesungguhnya yang dipandang sebagai masalah dibandingkan dengan diabetes, bahkan walaupun keduanya mengklaim menimbulkan jumlah korban yang sama. Di sini kecenderungan politik dan ideologis dapat menyebabkan suatu masalah menjadi lebih menonjol ketimbang masalah lain.
Pergeseran Paradigma
 Kuhn menilai bahwa sejarah sains tradisional terlalu sederhana. Studinya tentang Aristoteles mengantarkannya ke wawasan yang mencerahkan bahwa setiap perangkat teori memiliki validitasnya sendiri. Dari sinilah muncul ide kuncinya tentang “paradigma” –landasan yang tak bisa dipertanyakan ketika sains normal dilakukan, hingga munculnya krisis yang diakibatkan oleh ketidakmampuan untuk maju dan akumulasi anomaly-anomali. Catatan yang sangat masuk akal ini meninggalkan pertanyaan tentang kebenaran dan kemajuan menjadi terbuka lebar. Dalam karya Kuhn, sains ditunjukkan bersifat relative dan sungguh arbitrer.
Sains dibela..
Maka muncullah reaksi dari para pembela sains konstruktivis, dekonstruksionis, feminis dan segala macam ”- is” yang terefleksikan secara kritis pada sains yang dipandang secara keseluruhan sebagai musuh dalam serangan balik yang dipimpin oleh Paul Gross dan Norman Leavitt dalam karyanya Higher Superstition: The Academic Left and Its Quarrels with Science (1994). Pendekatan senapan semacam itu tidak bisa memiliki focus yang tajam. Tetapi , hal ini pada akhirnya disuplai oleh seorang fisikawan, Alan D. Sokal, Dia menerbitkan sebuah naska olok-olok yang terkenal dalam jurnal terhormat Social Text (1996). Sokal berpura-pura menulis tentang gravitasi kuantum, tetapi membuat klaim absurb memberikan fakta yang salah da menafsirkan teori secara keliru. Dia mengambil untuk diri sendiri argument dari seluruh penulis yang berlebihan yang telah bekerja dalam Sosiologi dan cultural studies sains dan membungkus seluruh naskanya dalam jargon Cultural Studies
Dan Sains di(de) Konstruksi
Tesis utama Cultural Studies sains telah dikonsolidasikan dalam formula berikut: pengetahuan ilmiah dikonstruksikan secara sosial dan budaya, bukan ditemukan
Teori Teknokultur
Ide bahwa teknologi itu autonom adalah inti pemikiran kaum modernis Determinasi teknologi menganggap adanya hubungan yang linier dan kausal antara kemajuan teknologi dan perkembangan sosial. Teknologi itu sendiri dianggap netral dan bebas dari kontaminasi budaya ideology . Anggapan ini memandang hubungan antara masyarakat dan teknologi bersifat pasif dan ini menghalangi kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Unsur-unsur ini mencakup gaya hidup, gagasan tentang sifat dan system pemikiran-disandikan atau direpresentasikan dalam artefak teknologi tertentu.Istilah teknokultur itu sendiri menegaskan adanya hubungan yang mendalam antara teknologi dan budaya dan mendorong kita untuk menyadari bahwa “teknologi” jarang terpisah dari manusia.

Ciborg-nya Haraway
Cyborg dipandang sebagai organisme sibernetik sebagai hasil peleburan antara biologi dan teknologi. Haraway membawa cyborg kemuka bumi dan mendefinisikannya sebagai gagasan yang tak masuk akal , hibrida, mesin, dan organisme yang diteoretisasikan serta dipabrikan makhluk dalam sebuah dunia pascagender yang ditempa dalam praktik sejarah budaya yang khusus


Orientalisme
Digambarkan sebagai “narasi terbesar” yang menghubungkan pengetahuan Barat dan imperialisme. Meskipun Orientalisme dipandang sebagai teori umum mengenai represntasi, diterapkan secara khusus pada Islam dan muslim. Secara spesifik, Said mendefinisikan Orientalisme dalam istlah-istilah berikut:
1.      Tradisi klasik yang mempelajari suatu kawasan dengan menggunakan bahasa dan tulisan yang ada di kawasan tersebut.
2.      Definisi kedua yang berhubungan dengan tradisi akademik.
3.      Orientalisme, tegas Said selalu “mengesampingkan Timur”
4.      Said mendefinisikan Orientalisme sebagai “institusi” korporasi yang berhubungan dengan Timur.
Perintis kepada Kaum Orientalisme
Dalam Europe and Islam (1997), filosof dan sejarahwan Tunisia,Hichem Djait , mengemukakan argument dan bukti tentang representasi Eropa mengenai Islam yang sama dengan pandangan Said Dan Sosiolog Malaysia , Syed Hussain Alatas dalam karyanya yang mungkin akan terus berkembang di masa depan, The Myth of the Lazy Native (1977)
Kritik Said
Orientalisme diperdebatkan sebagai teori umum tentang semua representasi seluruh budaya non Barat  Dengan demikian perbedaannya: Lokasi, mode, generalisasi. Said menolak –humanism-sebagai- sejarah kaum Orientalisme adalah akibat samping dari tradisi in, yang kemudian tertarik pada tradisi yang sama dalam pembelaannya untuk melawan representasi stereotype non-Barat.
Wacana Pos-Kolonial
Orientalisme telah menelurkan seluruh  aliran penulisan kritis yang dikenal dengan berbagai cara sebagai studi poskolonial, teori pos-kolonial, dan wacana pos-kolonial (tidak menyatakan secara langsung setelah kolonialisme. Tokohnya:
·        Gayatri Spivak => Dunia ketiga adalah kreasi Barat yang mengunci budaya non Barat dan bagaimana Barat memandang serta memperlakukannyake dalam representasi imperial
·        Homi Bhabha=> menggunakan psikoanalisis untuk membaca fenomena sejarah kolonialisme. Subjek colonial yang dilepaskan yang dipersonalkan akhirnya menjadi objek yang tidak terhitung yang senantiasa sulit ditempatkan.
·        Sara Suleri=> The rhetoric of English India(1992) Menghadirkan gagasan Inggris India untuk menekankan bahwa tak ada perbedaan antara sejarah colonial dan pos-kolonial dan untuk menunjukkan kesinambungan antara Raj dan India Modern.
Ras dan Identitas
Gagasan tentang ras, identitas dan perbedaan adalah sentral bagi cultural studies. Budaya non-Barat sering dipandang sebagai penghambat pembangunan dan ini menimbulkan rasisme terhadap mereka yang dipandang sebagai di luar modernitas atau anti modern.
Multikulturalisme dan Kritiknya
Adalah gagasan umum yang menggambarkan keberagaman ras yang hidup dalam harmoni pluralistic cenderung mereproduksi sindrom sari, samosa, dan pita besi yaitu memfokuskan pada manifestasi budaya yang  dangkal dan membuat eksotis. Tokohnya:
Ø  Ali Rattansi, menggambarkan pembentukan identitas etnik sebagai suatu proses rasialisasi terjadi ketika wacan biologis dan quasi-biologis popular atau terspesialisasi digunakan untuk melegitimasi proyek pembentukan subjek inklusi dan eksklusi diskriminasi inferiorisasi, eksploitasi, penyalahgunaan verbal, pelecehan fisikal dan kekerasan.
Ø  Cornel West (1953), intelektual Afro-Amerika identitas berkaitan dengan afiliasi- sebuah kerinduan unutk memilki rasa aman, dan ketenangan.
Ø  Bell Hooks, Penulis Afro-Amerika, bell hooks benar-benar tanpa huruf capital menekankan hubngan langsung antara perjuangan identitas dan politik. Dia mengkritik mereka yang memandang identitas budaya sebagai “tidak keren” dan tanda kemunduran politi, Dia tidak memandang identitas sebagai Kendal, tetapi sebagai tahap dalam sebuah proses ketika seseorang membangun subjektivitas kulit hitam radikal. Karena menghasilkan pilihan lain disamping asimilasi, imitasi atau pemberontakkan.
Ø  Henry Louis Gates, Jr.
Tidak perlu menghindarkan diri dari teori sastra,tetapi  lebih baik menerjemahkannya ke dalam idiom kulit hitam, menamai kembali prinsip-prinsip kritisme. Kritisme Afro-Amerika telah berkembang melalui empat fase:
·        Estetika kulit hitam
·        Repetisi dan Imitasi
·        Repetisi dan diferensi
·        Sintesis,  sebuah teori yang mendiri tetapi juga terhubung lewat analogi dengan teori-teori lain.
Diaspora
Dari bahasa Yunani berarti “penyebaran” esensialisnya diaspora adalah komunitas minoritas yang hidup dalam pengasingan , yang paling terkenal adalah diaspora kaum Yahudi
Ruang Diaspora
Melarang pribumi imigran sebagai suatu kategori konseptual, ruang diaspora tidak hanya  didiami oleh pendatang tetapi juga oleh mereka yang telah tinggal dan dikostruksi serta dipresentasikan sebagai pribumi. Ruang diaspora adalah  situs tempat pribumi sesungguhnya adalah seorang diasporian, sebaliknya diasporian adalah pribumi.
Black Atlantic
Gilroy sebagai kategori analitis terbaru, dipandang sebagai unit tunggal yang kompleks dan digunakan untuk menghasilkan persfektif intercultural dan transnasional secara eksplisit. Ini akan melibatkan pemikiran ulang cara-cara sejarah politik dan budaya kulit hitam Amerika telah dipahami dan ditampilkan.
Perempuan dan Gender
“Gender memiliki dua makna, pertama; adalah kata yang berlawanan dengan “jenis kelamin” yang merujuk konstruksi sosial berlawanan dengan determinasi biologis. Makan kedua adalah  konstruksi sosial apa saja yang melibatkan pembedaan laki-laki dan perempuan
Perempuan Mengangkat Isu (1960-1970)
Kehadiran feminism mulai terasa, kebanyakan meamndang jenis kelamin sebagai dasar untuk konstruksi gender.
Dari persfektif Cultural Studies, politik budaya feminis dapat dibagi secara luas dala (setidaknya) lima kategori yang bersaing

 
 



1.      Politik liberal feminis liberal ( menekankan pentingnya persamaan dan kesempatan dalam bidang  pekerjaan, akses, kependidikan dan perawatan anak)
2.      Politik budaya yang terpusat pada perempuan
3.      Feminis Marxis memandang gender sebagai fenomena budaya
4.      Dalam feminism posmo (postmodern) gender dan ras tidak memiliki makna yang tetap.
5.      Feminis kulit hitam  dan non-Barat berkonsentrasi pada rasisme dan kolonialisme dan memandang hal ini sebagai alat unutk memahami relasi gender.
Teori Queer
Homoseksulitas ( queerness) sebagai “kualitas yang berkaitan dengan akspresi apa saja yang dapat ditandai sebagai kontra-, non-, atau anti heteroseksulitas. Teori Queer menganalisis kode-kode ini dalam teks dan praktik sosial untuk menyingkapkan dan menggantikannya dengan kondisi sosial dan seksual yang baru yang melampaui dualitas hetero/homo tersebut dan merayakan perbedaan sosial.

Mempresentasikan Homoseksualitas
Perilaku seksualitas yang berbeda telah sejak awal. Homoseksualitas telah memberikan sumbangsih tak ternilai bagi pengembangan budaya barat.
Menantang Representasi
Budaya Queer muncul untuk melawan representasi ini. Ia berkembang dalam tiga fase:
1)      Budaya intelektual Gay dan Lesbian mencakup tahun 1968-1975
2)      Mencakup tahun 1975-1980, ini adalah periode pembentukan komunitas dan politisasi gerakan lesbian dan gay.
3)      Dimulai pertengahan 1980-an, ketika epidemi AIDS dan serangan balik antigay yang dipimpin oleh golongan Kanan Baru (New Right) menghancurkan ilusi-ilusi abad toleransi dan pengertian.
Media dan Budaya
Ada empat komponen dasar dari industry media yang mengemas pesan dan produk
1.       Pesan dan produk itu sendiri
2.      Khalayak yang meneguk pesan dan mengonsumsi produk
3.      Teknologi yang senantiasa berubah, yang membentuk baik industri maupun cara pesan tersebut dikomunikasikan
4.      Dan penampakan akhir produk tersebut
Kode Media
Kode-kode media dapat diinternalisasikan sebagai bentuk representasi mental. Jadi, orang dapat dan sering berfikir dalam gambar bergerak dengan ikhlas baik, gerakan cepat atau gerakan lambat pelarutan ke dalam waktu lain, tempat lain. Tapi kode ini kde-kode ini dapat juga menjadi suatu bentuk halus periklanan.
Isu-Isu Dasar Representasi
Pertama, ada pertanyaan tentang inklusi
Kedua, bagaimanakah media merepresentasikan kelompok-kelompok budaya yang berbeda?
Ketiga, peranan apa yang dilakoni oleh orang-orang dari kelompok budaya yan berbeda dalam membentuk produk akhir-kontrol semacam apa yang mereka miliki dalam proses produksi.
Globalisasi
Proses yang mengubah dunia menjadi “desa buana”, secara cepat menyusutkan jarak, memadatkan ruang dan waktu yang dikenal sebagai globalisasi
Globalisasi diantarkan oleh tiga tren yang penting:
1.      Gelombang ekonomi liberalisasi yang dimulai pada 1980-an telah mencapai proporsi global setelah jatuhnya komunisme.
2.      Demokrasi liberal secara luas diterima melintasi budaya dari Eropa Timur hungga afrika.
3.      Tren menuju universalisasi budaya Barat telah didukung oleh Holllywood, televisi, satelit dll
Konsekuensi Globalisasi
Globalisasi cenderung mempertahankan pola-pola imperialism ekonomi dan budaya Barat yang sudah sangat terkenal. Ia mempromosikan seperangkat nilai dan praktik budaya yang dominan –satu visi  tentang cara menjalani kehidupan dengan mengorbankan segala hal yang lain. Dan ini, memilki konsekuensi praktis yang serius.
Melawan  Globalisasi
Globalisasi itu sendiri bisa saja diruntuhkan dengan kemunculan perdaban Asia . Inilah argument The Asian Renaissance (1996) dari intelektual dan politisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Yaitu sebuah pengalaman yang lebih harmonis dan memperkaya kehidupan rukun orang-orang dari budaya dan agama yang beragam. Masa depan Global dengan demikian menjadi terbuka secara radikal daripada yang diperkirakan proses globalisasi.
Kemanakah Cultural Studies Melangkah?
Cultural Studies telah menjadi terlalu abstrak dan terlalu teknis, tercerai dari kehidupan dan realitas orang-orang yang seharusnya ia berdayakan dan kepentingan seharusnya dibuatkan strategi bagi perlawanan dan perjuangan hidup.
Para kampiun Cultural Studies  seharusnya tidak membuat klaim atas nama Cultural Studies yang tidak dapat dibenarkan. CulturaRESUME BUKU “ MENGENAL CULTURAL STUDIES FOR BEGINNERS”


Oleh:
Nama               : Rosi Zuliastia
Nim                  : 07081002078
Jurusan : Sosiologi
Mata kuliah      : Kapita Selekta Sosiologi

DOSEN PENGASUH
Dr. Ridho Taqwa

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

RESUME BUKU “ MENGENAL CULTURAL STUDIES FOR BEGINNERS”


Oleh:
Nama               : Oktodinata
Nim                  : 07081002035
Jurusan : Sosiologi
Mata kuliah      : Kapita Selekta Sosiologi

DOSEN PENGASUH
Dr. Ridho Taqwa


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

Pengertian Cultural Studies
Cultural studies adalah suatu bidang studi yang memikat “hangat”. Ia telah menjadi kegemaran ditengah-tengah kalangan progresif-setidaknya karena budaya (culture) sebagai tema atau topik studi telah mengggantikan masyarakat sebagai subjek telaah  umum di tengah kalangan tersebut. Terlebih dahulu kita mengartikan apa itu budaya? Menurut antropolog Inggris, Sir E.B Taylor (1832-1917) dalam bukunya Primitive Culture (1871) budaya adalah keseluruhan yang  kompleks termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istidat, dan kemampuan serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Subjek dari Cultural Studies
Titik pijakannya adalah sebuah  gagasan tentang budaya yang sangat luas dan mencakup segala hal  yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari aneka praktik, keterbatasan dalam prinsip, teori, dan metode. Tidak memilki teori dan metodeloginya sendiri berfungsi meminjam secara bebas dari disiplin ilmu sosial, humaniora dan seni mengambil teori antropologi, sosiologi, psikologi linguistik, kritisme sastra, teori seni filsafat, ilmu politik dan mistologi. Itulah sebabnya Cultural Studies sering digambarkan sebagai “anti disiplin” –cara penyelidikan yang tidak mengikuti baju pengekang disiplin-disiplin yang terlembagakan.
Karakteristik Cultural Studies
1.      Cultural Studies bertujuan mengkaji pokok persoalannya dari sudut praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan
2.      Cultural Studies tidak hanya studi tentang budaya, seakan-akan ia merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya
3.      Budaya dalam Cultural Studies selalu menamlpilkan dua fungsi: ia sekligus merupakan objek studi maupun lokasi tindakan dan kritisme politik.
4.      Berupaya mendamaikan pengotakan pengetahuan mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan bersama.
5.      Melibatkan dirinya dengan evaluasi moral masyarakat modern dan dengan garis tindakan poitik.
Penerapan Cultural Studies: Semiotika
Sebuah konsep utama dalam Cultural Studies adalah konsep tanda (sign) tanda memiliki tiga karakteristik dasar:
Ø  Memiliki bentuk yang konkret
Ø  Merujuk pada sesuatu yang bukan dirinya sendiri
Ø  Dapat dikenali kebanyakam orang sebagai tanda, yang dirujuk oleh tanda, asosiasi mentalnya dikenal sebagai petanda (signified)
Tanda, kode dan teks
Tanda sering disusun sebagai kode, yang ditentukan oleh aturan-aturan implisit dan eksplisit yang disepakati oleh anggota suatu kebudayaan atau kelompok sosial. Teks hanya dapat diapresiasi secara utuh, jika dilihat dari konteks, kombinasi tanda dan penandaan betul-betul dipertimbangkan, lingkungan umum tempat teks tersebut berada juga diperhitungkan.
            Representasi dari Yang-lain (The Other)
            Proses dan produknya yang member makna khusus pada tanda adalah reperesentasi. Representasi paling umum dari Yang-lain adalah sebagai sisi tergelap, oposisi biner dari dirinya  sendiri : kita beradap, mereka barbar; kolonialis adalah pekerja keras, pribumi adalah pemalas.
Asal –usul Cultural Studies
Berasal dari Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham, tahun 1964. Menerbitkan edisi pertama Working Papers in Cultural Studies dengan tujuan khusus mendefinisikan dan mengisi ruang serta meletakkan Cultural Studies pada peta intelektual
Para Bapak Pendiri
Richard Hoggart
Hoggart berarugumen bahwa pembacaan kritis terhadap seni dapat menampakkan “kualitas perasaan kehidupan” suatu masyarakat . Hanya dengan yang dapat menciptakan kembali kehidupan dalam segala keragaman dan komleksitasnya yang kaya. Dan hanya seni yang sanggup membawa kita keluar dari pengalaman keseharian yan terikat waktu, tetapi kelas pekerja terjepit diantara elit media dan elit seni
Raymond Williams
Adalah melihat praktik melihat kebudayaan sebagai ekspresi spesifik dari komunitas organic yang koheren dan melawan determinisme dalam berbagai bentuknya. Tetapi praktik menetapkan nilai yang secara inheren dan permanen baik dan yang secara inheren permanen buruk bukanlah suatu upaya tanpa noda. Nilai dapat digunakan untuk mendukung dan  menopang struktur ideologis yang ada dan sebagai ekspresi yang merendahkan upaya-upaya umum dari orang-orang awam.
E.P Thompson: Memahami Kelas
Mencoba menunjukkan bagaimana kelas pekerja Inggris muncul dala periode sejarah tertentu. Beliau menemukan kembali perantara, perhatian, dan pengalaman massa populasi Inggris yang telah diabaikan oleh tradisi sejarah konvensional yang dominan, perbedaan utama dengan Marxis teoritis dan sosiolog adalah desakan Thompson bahwa kelas adalah fenomena sejarah yang tidak dapat dipahami sebagai struktur atau kategori.
Stuart Hall
Praktik intelektual, berpendapat bahwa Cultural Studies perlu mempertahankan masalah teoritis dan politis dalam ketegangan yang senantiasa tak terpecahkan namu permanen, membiarkan keduanya saling membuat jengkel, mengacaukan da menggannggu yang lain, mencoba menerima kekuatan-kekuatan yang bertentangan, menggunakannya dan menyalurkannya dalam arah yang kreatif dan politis. Masyarakat dikendalikan oleh konflik yang berdasarkan pada jenis kelamin, ras, agama, dan wilayah, maupun kelas, budaya juga membentuk rasa identitas manusia sama sperti ekonomi. Senantiasa bersikeras cultural studies sebenarnya dampak berdampak praktis pada realitas. Dibandingakn dengan mendesaknya orang-orang yang sekarat di jalanan, apa gunanya cultural studies, apa gunanya studi tentang representasi, jika tidak ada respon atas neasehat bagi seseorang bertanya apakah mereka  sebaiknya memakai obat untuk AIDS, dan jika hal tersebut  berarti bahwa mereka akan mati dua hari kemudian atau beberapa bulan cepat.
Cultural Studies Inggris
Selama pembentukannya, cultural studies Inggris sangat terpengaruh oleh New Left. Memang pembentukan dan perkembangan Kiri Baru dipandang banyak sejarahwan sebagai perintis jalan bagi cultural studies, penindasan Stalin yang brutal terhadap pemberontakkan rakyat di Negara “Blok Soviet” Hongaria menjadi suatu peristiwa yang menentukan bagi komunisme Eropa Barat. Banyak di antara mereka yang mencela Marxisme ala Stalinis kemudian membentuk Kiri Bru. Para mahasiswa dan intelektual dari bekas koloni inggris, yang berpindah ke golongan pinggiran dan tidak pernah dibolehkan menjadi bagian lembaga-lembaga dominan Kiri Inggris, telah memainkan peranan penting dalam pembentukan kiri baru.
Internasionalisme Cultural Studies
Menurut Stuart Hill inilah titik penting dalam memahami baik sejarah Cultural Studies kiri baru maupun Inggris
Melebarkan isu
Perilaku kelompok-kelompok sperti mods, rocker, dan punk dipandang mewakili perlawanan simbolis terhadap system dominan, cultural studies di inggris berfokus pada citra wanita kemaskulinan dan sejarah seksualitas , mengkaji bagaimana masa lalu dihadirkan di museum. Cultural Studies Inggris dibedakan menjadi dua : keragaman dan orisinalitas yang luas biasa dari topik yang dikajinya, kedua; Cultural Studies Inggris selalu memilki dimensi politik
Strukturalisme Althusser
Filosofi Prancis Louis Althusser (1918-1990) mengimpor strkturalisme ke dalam marxisme dalam upaya menjadikannya sebuah ilmu pengetahuan. Stukturalisme memiliki dua aspek penting pertama, Pengakuan bahwa relasi yang berbeda adalah kunci untuk memahami budaya dan masyarakat kedua, akibatnya struktur tidak mendahului perwujudan relasi-relasi tersebut.
 Pengaruh Antonio Gramsci (1891-1937)
Ia menyatakan keheranannya melihat para petani yang seharusnya bersimpati pada kami, justru berkolaborasi melawan kepentingan kelas. Hal in dapat dicapai jika kelas atas melengkapi kekuatan ekonomi mereka dengan menciptakan kepemimpinan moral dan intelektual. Proses aktif ini yang beroperasi di sejumlah front, akhirnya menimbulkan keseimbangan kompromi di antara kelas-kelas bersaing.
Hegemoni
Istilah kunci dalam pemikiran Gramsci adalah hegemoni yang berarti hal yang mengikat masyarakat tanpa menggunakan kekuatan. Gramsci berpendapat bahwa semua manusia adalah intelektual. Tetapi tidak semua manusia dalam masyarkat memiliki fungsi intelektual sejalan dengan ide “subaltern” Sepanjang sejarah Cultural studies, gagasan Gramsci digunakan untuk menyingkap kecenderungan hegemonis tentang posisi kebudayaan, intelektual dan filosofis yag beragam.
Kritik Cultural Studies Inggris
Dikritik karena parokialisme dan anglosentrisme penekanannya yang berlebihan  terhadap kelas dengan mengorbankan ras dan jender juga perhatian berlebihan yang romantis terhadap gaya urban dan ritual subkultur . Kebudayaan popular Inggris diproyeksikan sebagai suatu model prototype untuk diikuti dunia Cultural Studies Inggris berbicara dari pusat-pusat metropolitan Birmingham dan London lokasi tempat perhatian dan persfektif pinggiran jarang dipertimbangkan. Cultural Studies Inggris berbicara mengenai kelas pekerja, wanita, kulit hitam dan minoritas lain tetapi para praktisinya sangat didominasi orang kulit putih kelas menengah. Berbicara memuja bentuk-bentuk seni popular tertentu sebagai arketipe kebudayaan.
Migrasi Cultural Studies
Lokasi baru perhatian Cultural Studies Inggris pada system kelas Inggris jadi tidak relevan lagi, terpecah dan meninggalkan daratan Inggris bermigrasi Ke Amerika Serikat, Kanada, Australia, Prancis dan India.
Cultural Studies Amerika
Dalam studi media, misalnya penekanan bergeser kearah etnografi khalayak. Peranan teks-teks media dalam penciptaan formasi kebudayaan popular dikaji. Ada juga tradisi minoritas studi komunikasi yang berusia lebih dari satu decade, mendukung penafsiran komunikasi sebagai suatu cara penciptaan dan transformasi budaya bersama. Karena itu Cultural Studies tidak terlalu sulit diadopsi dan diserap secara capat dalam struktur kelembagaan akademik AS.
Cultural Studies Kanada
Menaruh perhatian terutama pada persoalan dan isu mengenai nasionalitas orang-orang Kanada. Bagaimana orang-orang dari latar belakang yang beragam, tersebar di wilayah luas dan berpopulasi sedikit seperti itu bisa berubah menjadi bangsa yang padu. Bagaimana budaya Kanada melawan serangan gencar perbatasn selatan. Berfokus pada penyelidikan tentang definisi dirinya sendiri.
Cultural Studies Australia
Dirangkul oleh gerakan nasionalis kritis dalam studi sastra di Australia, berupaya memeriksa seluruh gagasan mengenai karakter nasional dalam film, sejarah, dan teori sastra dengan berfokus pada lembaga wacan adan teks-teks local sebagai tokohnya Mad Max.
Cultural Studies Prancis
Pertanyaan utama apakah pengetahuan kebudayaan (misalnya penguasaan bahasa) adalah basis esensial untuk menjadi Prancis. Pada awalnya, Prancis mengikuti kebijakan asimilasi sebagai tujuan akhir untuk mengangkat kebudayaan para imigran ke level yang disebut kebudayaan Prancis, kemudian mengasimilasi mereka ke dalam “Negara”
            Pierre Bourdieu (1930)
Sosiolog dan ahli pendidikan, adalah seorang eksponen cultural studies Prancis paling terkemuka Dia secara seksama memperlihatkan adanya hubungan yang intrinsik dan kompleks antara perjuangan bagi kekuasaan sosial dan penggunaan produk kebudayaan oleh kelompok-kelompok sosial yang berbeda sebuah karya seni yang memilki kepentingan dan makna hanya bagi mereka yang memiliki modal budaya dan dapat membaca kode-kode yang disandikan.
Cultural Studies Asia Selatan
Ada tiga mahzab yang berbeda ( dan sering bertempur) dari cultural studies Asia Selatan  Para sarjana di Centre for study of Developing Societies (CSDS), didirikan di Delhi pada 1963 mempraktikan satu model khusus cultural studies yang berakar dalam pengetahuan sosial yang berbentuk pribumi Karya teoritis dari Rajni Kothari, Ashis Nandy dan D.L. Sheth diantara yang lain mempermasalahkan ide tentang budaya dan sains yang telah distandarkan.
Para sarjana CSDS memusatkan perhatian terhadap tiga isu utama isu pertama berhubungan dengan pengalaman transformasi dan komunitas “pramodern” menuju masyarakat modern.Isu kedua mengenai percakapan budaya ketidakmengertian terkadang digunakan sebagai suatu metode yang bersifat provokatif secara teoritis untuk studi pembentukan budaya. Isu ketiga melibatkan penemuan kembali budaya dari mereka yang terpinggirkan secara politik oleh negara dan oleh ideologi hegemonic tentang nasionalisme, secularisme, sifat ilmiah rasionalitas dan universalisme budaya.
Cultural Studies Sains
Areanya adalah paling sensitif secara ideologis dari semuanya karena sains hingga kini masih merupakan totem budaya secular eropa. Nilai memasuki sains dengan sejumlah cara. Pintu masuknya pertama adalah seleksi permasalahan yang diteliti –pemilihan masalah, siapa, yang membuat pilihan itu dan atas dasar apa. Masyarakat, realitas politik dari system kekuasaan, prasangka dan system nilai akan mempengaruhi bahkan sains yang peing murni sekalipun.
Nilai juga memainkan bagian penting dalam menentukan apakah sesungguhnya yang dipandang sebagai masalah dibandingkan dengan diabetes, bahkan walaupun keduanya mengklaim menimbulkan jumlah korban yang sama. Di sini kecenderungan politik dan ideologis dapat menyebabkan suatu masalah menjadi lebih menonjol ketimbang masalah lain.
Pergeseran Paradigma
 Kuhn menilai bahwa sejarah sains tradisional terlalu sederhana. Studinya tentang Aristoteles mengantarkannya ke wawasan yang mencerahkan bahwa setiap perangkat teori memiliki validitasnya sendiri. Dari sinilah muncul ide kuncinya tentang “paradigma” –landasan yang tak bisa dipertanyakan ketika sains normal dilakukan, hingga munculnya krisis yang diakibatkan oleh ketidakmampuan untuk maju dan akumulasi anomaly-anomali. Catatan yang sangat masuk akal ini meninggalkan pertanyaan tentang kebenaran dan kemajuan menjadi terbuka lebar. Dalam karya Kuhn, sains ditunjukkan bersifat relative dan sungguh arbitrer.
Sains dibela..
Maka muncullah reaksi dari para pembela sains konstruktivis, dekonstruksionis, feminis dan segala macam ”- is” yang terefleksikan secara kritis pada sains yang dipandang secara keseluruhan sebagai musuh dalam serangan balik yang dipimpin oleh Paul Gross dan Norman Leavitt dalam karyanya Higher Superstition: The Academic Left and Its Quarrels with Science (1994). Pendekatan senapan semacam itu tidak bisa memiliki focus yang tajam. Tetapi , hal ini pada akhirnya disuplai oleh seorang fisikawan, Alan D. Sokal, Dia menerbitkan sebuah naska olok-olok yang terkenal dalam jurnal terhormat Social Text (1996). Sokal berpura-pura menulis tentang gravitasi kuantum, tetapi membuat klaim absurb memberikan fakta yang salah da menafsirkan teori secara keliru. Dia mengambil untuk diri sendiri argument dari seluruh penulis yang berlebihan yang telah bekerja dalam Sosiologi dan cultural studies sains dan membungkus seluruh naskanya dalam jargon Cultural Studies
Dan Sains di(de) Konstruksi
Tesis utama Cultural Studies sains telah dikonsolidasikan dalam formula berikut: pengetahuan ilmiah dikonstruksikan secara sosial dan budaya, bukan ditemukan
Teori Teknokultur
Ide bahwa teknologi itu autonom adalah inti pemikiran kaum modernis Determinasi teknologi menganggap adanya hubungan yang linier dan kausal antara kemajuan teknologi dan perkembangan sosial. Teknologi itu sendiri dianggap netral dan bebas dari kontaminasi budaya ideology . Anggapan ini memandang hubungan antara masyarakat dan teknologi bersifat pasif dan ini menghalangi kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Unsur-unsur ini mencakup gaya hidup, gagasan tentang sifat dan system pemikiran-disandikan atau direpresentasikan dalam artefak teknologi tertentu.Istilah teknokultur itu sendiri menegaskan adanya hubungan yang mendalam antara teknologi dan budaya dan mendorong kita untuk menyadari bahwa “teknologi” jarang terpisah dari manusia.

Ciborg-nya Haraway
Cyborg dipandang sebagai organisme sibernetik sebagai hasil peleburan antara biologi dan teknologi. Haraway membawa cyborg kemuka bumi dan mendefinisikannya sebagai gagasan yang tak masuk akal , hibrida, mesin, dan organisme yang diteoretisasikan serta dipabrikan makhluk dalam sebuah dunia pascagender yang ditempa dalam praktik sejarah budaya yang khusus


Orientalisme
Digambarkan sebagai “narasi terbesar” yang menghubungkan pengetahuan Barat dan imperialisme. Meskipun Orientalisme dipandang sebagai teori umum mengenai represntasi, diterapkan secara khusus pada Islam dan muslim. Secara spesifik, Said mendefinisikan Orientalisme dalam istlah-istilah berikut:
1.      Tradisi klasik yang mempelajari suatu kawasan dengan menggunakan bahasa dan tulisan yang ada di kawasan tersebut.
2.      Definisi kedua yang berhubungan dengan tradisi akademik.
3.      Orientalisme, tegas Said selalu “mengesampingkan Timur”
4.      Said mendefinisikan Orientalisme sebagai “institusi” korporasi yang berhubungan dengan Timur.
Perintis kepada Kaum Orientalisme
Dalam Europe and Islam (1997), filosof dan sejarahwan Tunisia,Hichem Djait , mengemukakan argument dan bukti tentang representasi Eropa mengenai Islam yang sama dengan pandangan Said Dan Sosiolog Malaysia , Syed Hussain Alatas dalam karyanya yang mungkin akan terus berkembang di masa depan, The Myth of the Lazy Native (1977)
Kritik Said
Orientalisme diperdebatkan sebagai teori umum tentang semua representasi seluruh budaya non Barat  Dengan demikian perbedaannya: Lokasi, mode, generalisasi. Said menolak –humanism-sebagai- sejarah kaum Orientalisme adalah akibat samping dari tradisi in, yang kemudian tertarik pada tradisi yang sama dalam pembelaannya untuk melawan representasi stereotype non-Barat.
Wacana Pos-Kolonial
Orientalisme telah menelurkan seluruh  aliran penulisan kritis yang dikenal dengan berbagai cara sebagai studi poskolonial, teori pos-kolonial, dan wacana pos-kolonial (tidak menyatakan secara langsung setelah kolonialisme. Tokohnya:
·        Gayatri Spivak => Dunia ketiga adalah kreasi Barat yang mengunci budaya non Barat dan bagaimana Barat memandang serta memperlakukannyake dalam representasi imperial
·        Homi Bhabha=> menggunakan psikoanalisis untuk membaca fenomena sejarah kolonialisme. Subjek colonial yang dilepaskan yang dipersonalkan akhirnya menjadi objek yang tidak terhitung yang senantiasa sulit ditempatkan.
·        Sara Suleri=> The rhetoric of English India(1992) Menghadirkan gagasan Inggris India untuk menekankan bahwa tak ada perbedaan antara sejarah colonial dan pos-kolonial dan untuk menunjukkan kesinambungan antara Raj dan India Modern.
Ras dan Identitas
Gagasan tentang ras, identitas dan perbedaan adalah sentral bagi cultural studies. Budaya non-Barat sering dipandang sebagai penghambat pembangunan dan ini menimbulkan rasisme terhadap mereka yang dipandang sebagai di luar modernitas atau anti modern.
Multikulturalisme dan Kritiknya
Adalah gagasan umum yang menggambarkan keberagaman ras yang hidup dalam harmoni pluralistic cenderung mereproduksi sindrom sari, samosa, dan pita besi yaitu memfokuskan pada manifestasi budaya yang  dangkal dan membuat eksotis. Tokohnya:
Ø  Ali Rattansi, menggambarkan pembentukan identitas etnik sebagai suatu proses rasialisasi terjadi ketika wacan biologis dan quasi-biologis popular atau terspesialisasi digunakan untuk melegitimasi proyek pembentukan subjek inklusi dan eksklusi diskriminasi inferiorisasi, eksploitasi, penyalahgunaan verbal, pelecehan fisikal dan kekerasan.
Ø  Cornel West (1953), intelektual Afro-Amerika identitas berkaitan dengan afiliasi- sebuah kerinduan unutk memilki rasa aman, dan ketenangan.
Ø  Bell Hooks, Penulis Afro-Amerika, bell hooks benar-benar tanpa huruf capital menekankan hubngan langsung antara perjuangan identitas dan politik. Dia mengkritik mereka yang memandang identitas budaya sebagai “tidak keren” dan tanda kemunduran politi, Dia tidak memandang identitas sebagai Kendal, tetapi sebagai tahap dalam sebuah proses ketika seseorang membangun subjektivitas kulit hitam radikal. Karena menghasilkan pilihan lain disamping asimilasi, imitasi atau pemberontakkan.
Ø  Henry Louis Gates, Jr.
Tidak perlu menghindarkan diri dari teori sastra,tetapi  lebih baik menerjemahkannya ke dalam idiom kulit hitam, menamai kembali prinsip-prinsip kritisme. Kritisme Afro-Amerika telah berkembang melalui empat fase:
·        Estetika kulit hitam
·        Repetisi dan Imitasi
·        Repetisi dan diferensi
·        Sintesis,  sebuah teori yang mendiri tetapi juga terhubung lewat analogi dengan teori-teori lain.
Diaspora
Dari bahasa Yunani berarti “penyebaran” esensialisnya diaspora adalah komunitas minoritas yang hidup dalam pengasingan , yang paling terkenal adalah diaspora kaum Yahudi
Ruang Diaspora
Melarang pribumi imigran sebagai suatu kategori konseptual, ruang diaspora tidak hanya  didiami oleh pendatang tetapi juga oleh mereka yang telah tinggal dan dikostruksi serta dipresentasikan sebagai pribumi. Ruang diaspora adalah  situs tempat pribumi sesungguhnya adalah seorang diasporian, sebaliknya diasporian adalah pribumi.
Black Atlantic
Gilroy sebagai kategori analitis terbaru, dipandang sebagai unit tunggal yang kompleks dan digunakan untuk menghasilkan persfektif intercultural dan transnasional secara eksplisit. Ini akan melibatkan pemikiran ulang cara-cara sejarah politik dan budaya kulit hitam Amerika telah dipahami dan ditampilkan.
Perempuan dan Gender
“Gender memiliki dua makna, pertama; adalah kata yang berlawanan dengan “jenis kelamin” yang merujuk konstruksi sosial berlawanan dengan determinasi biologis. Makan kedua adalah  konstruksi sosial apa saja yang melibatkan pembedaan laki-laki dan perempuan
Perempuan Mengangkat Isu (1960-1970)
Kehadiran feminism mulai terasa, kebanyakan meamndang jenis kelamin sebagai dasar untuk konstruksi gender.
Dari persfektif Cultural Studies, politik budaya feminis dapat dibagi secara luas dala (setidaknya) lima kategori yang bersaing

 
 



1.      Politik liberal feminis liberal ( menekankan pentingnya persamaan dan kesempatan dalam bidang  pekerjaan, akses, kependidikan dan perawatan anak)
2.      Politik budaya yang terpusat pada perempuan
3.      Feminis Marxis memandang gender sebagai fenomena budaya
4.      Dalam feminism posmo (postmodern) gender dan ras tidak memiliki makna yang tetap.
5.      Feminis kulit hitam  dan non-Barat berkonsentrasi pada rasisme dan kolonialisme dan memandang hal ini sebagai alat unutk memahami relasi gender.
Teori Queer
Homoseksulitas ( queerness) sebagai “kualitas yang berkaitan dengan akspresi apa saja yang dapat ditandai sebagai kontra-, non-, atau anti heteroseksulitas. Teori Queer menganalisis kode-kode ini dalam teks dan praktik sosial untuk menyingkapkan dan menggantikannya dengan kondisi sosial dan seksual yang baru yang melampaui dualitas hetero/homo tersebut dan merayakan perbedaan sosial.

Mempresentasikan Homoseksualitas
Perilaku seksualitas yang berbeda telah sejak awal. Homoseksualitas telah memberikan sumbangsih tak ternilai bagi pengembangan budaya barat.
Menantang Representasi
Budaya Queer muncul untuk melawan representasi ini. Ia berkembang dalam tiga fase:
1)      Budaya intelektual Gay dan Lesbian mencakup tahun 1968-1975
2)      Mencakup tahun 1975-1980, ini adalah periode pembentukan komunitas dan politisasi gerakan lesbian dan gay.
3)      Dimulai pertengahan 1980-an, ketika epidemi AIDS dan serangan balik antigay yang dipimpin oleh golongan Kanan Baru (New Right) menghancurkan ilusi-ilusi abad toleransi dan pengertian.
Media dan Budaya
Ada empat komponen dasar dari industry media yang mengemas pesan dan produk
1.       Pesan dan produk itu sendiri
2.      Khalayak yang meneguk pesan dan mengonsumsi produk
3.      Teknologi yang senantiasa berubah, yang membentuk baik industri maupun cara pesan tersebut dikomunikasikan
4.      Dan penampakan akhir produk tersebut
Kode Media
Kode-kode media dapat diinternalisasikan sebagai bentuk representasi mental. Jadi, orang dapat dan sering berfikir dalam gambar bergerak dengan ikhlas baik, gerakan cepat atau gerakan lambat pelarutan ke dalam waktu lain, tempat lain. Tapi kode ini kde-kode ini dapat juga menjadi suatu bentuk halus periklanan.
Isu-Isu Dasar Representasi
Pertama, ada pertanyaan tentang inklusi
Kedua, bagaimanakah media merepresentasikan kelompok-kelompok budaya yang berbeda?
Ketiga, peranan apa yang dilakoni oleh orang-orang dari kelompok budaya yan berbeda dalam membentuk produk akhir-kontrol semacam apa yang mereka miliki dalam proses produksi.
Globalisasi
Proses yang mengubah dunia menjadi “desa buana”, secara cepat menyusutkan jarak, memadatkan ruang dan waktu yang dikenal sebagai globalisasi
Globalisasi diantarkan oleh tiga tren yang penting:
1.      Gelombang ekonomi liberalisasi yang dimulai pada 1980-an telah mencapai proporsi global setelah jatuhnya komunisme.
2.      Demokrasi liberal secara luas diterima melintasi budaya dari Eropa Timur hungga afrika.
3.      Tren menuju universalisasi budaya Barat telah didukung oleh Holllywood, televisi, satelit dll
Konsekuensi Globalisasi
Globalisasi cenderung mempertahankan pola-pola imperialism ekonomi dan budaya Barat yang sudah sangat terkenal. Ia mempromosikan seperangkat nilai dan praktik budaya yang dominan –satu visi  tentang cara menjalani kehidupan dengan mengorbankan segala hal yang lain. Dan ini, memilki konsekuensi praktis yang serius.
Melawan  Globalisasi
Globalisasi itu sendiri bisa saja diruntuhkan dengan kemunculan perdaban Asia . Inilah argument The Asian Renaissance (1996) dari intelektual dan politisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Yaitu sebuah pengalaman yang lebih harmonis dan memperkaya kehidupan rukun orang-orang dari budaya dan agama yang beragam. Masa depan Global dengan demikian menjadi terbuka secara radikal daripada yang diperkirakan proses globalisasi.
Kemanakah Cultural Studies Melangkah?
Cultural Studies telah menjadi terlalu abstrak dan terlalu teknis, tercerai dari kehidupan dan realitas orang-orang yang seharusnya ia berdayakan dan kepentingan seharusnya dibuatkan strategi bagi perlawanan dan perjuangan hidup.
Para kampiun Cultural Studies  seharusnya tidak membuat klaim atas nama Cultural Studies yang tidak dapat dibenarkan. Cultural Studies bukanlah ideology ataupun agama , Ia tidak member makna dan arah kepada mereka yang mengikuti atau menggunakannya. Ia tidak, dan tidak dapat mengajari kita cara menjalani kehidupan yang baik dan bermoral.
KEUNTUNGANNYA
 Benar-benar bisa larut dalam disiplin lain, seperti sosiologi antropologi atau psikologi.Itu sangat disayangkan. Namun sebagai suatu istilah kolektif bagi sejumlah usaha intelektual yang beragam dan sering suka beerdebat yang membongkar kekuasaan dalam bentuknya yang ada dimana-mana, Cultural Studies memiliki masa depan hebat.

 l Studies bukanlah ideology ataupun agama , Ia tidak member makna dan arah kepada mereka yang mengikuti atau menggunakannya. Ia tidak, dan tidak dapat mengajari kita cara menjalani kehidupan yang baik dan bermoral.
KEUNTUNGANNYA
 Benar-benar bisa larut dalam disiplin lain, seperti sosiologi antropologi atau psikologi.Itu sangat disayangkan. Namun sebagai suatu istilah kolektif bagi sejumlah usaha intelektual yang beragam dan sering suka beerdebat yang membongkar kekuasaan dalam bentuknya yang ada dimana-mana, Cultural Studies memiliki masa depan hebat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar